EmitenNews.com -Pasar Asia juga akan mendapatkan kesempatan pertama mereka pada hari Senin ini untuk bereaksi terhadap pidato para pengambil kebijakan global paling berpengaruh di dunia pada simposium Jackson Hole pada hari Jumat lalu; di mana Jerome Powell (Fed Chairman), Christine Lagarde (ECB President), dan Kazuo Ueda (Gubernur bank sentral Jepang) mengutarakan kebijakan moneter mereka masing-masing. 

 

Powell memberi sinyal bahwa trend naik suku bunga AS masih akan berlanjut untuk memerangi Inflasi sampai ke level Target mereka di 2%.  Sebagai imbasnya, wajar terjadi perlambatan ekonomi serta melemahnya kondisi pasar tenaga kerja. Imbal hasil Treasury sontak melonjak sebagai antisipasi rezim suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama, dengan imbal hasil  US Treasury 2-tahun sempat naik mendekati siklus tertinggi di 5.12%.

 

Saham Teknologi sempat mendapat tekanan dari kenaikan imbal hasil Treasury, yang membuat sektor growth stock dengan valuasi lebih tinggi menjadi kurang menarik. Namun demikian, Nasdaq berhasil memimpin penguatan pada perdagangan hari Jumat lalu dengan menanjak naik 0.9% ; sementara DJI dan S&P500 masing-masing menguat 0.7%. In overall, Dow mencatatkan penurunan  selama 2 minggu berturut-turut.

 

Harga minyak mentah dunia naik untuk kedua kalinya pada perdagangan Jumat (25/08/23) namun belum berhasil untuk menutup pekan lalu di teritori positif ; mengakibatkan harga Crude Oil masih di zona negatif untuk 2 minggu berturut-turut di tengah sinyal Federal Reserve belum usai dengan trend naik suku bunga demi mengendalikan Inflasi AS. WTI ditutup di harga USD 80.05 / barrel pada pekan lalu, turun 1.7% secara mingguan menyusul pelemahan 2.3% di minggu sebelumnya. Namun sebelum itu, Crude Oil naik 7 minggu berturut-turut yang mendongkrak harga WTI hampir 20%. 

 

Pekan ini, harga minyak mentah dunia akan menghadapi tantangan & berpotensi bergerak semakin volatil seiring dirilisnya data makro ekonomi terkait angka ketenagakerjaan AS, sementara  pasar juga menghadapi ketidakpastian dari ekonomi lemah di China ditambah sentimen bullish yang telah memudar dari rencana pemangkaan produksi OPEC+.  Prospek naik suku bunga The Fed juga semakin membuat harga Emas global semakin lesu, walau saat ini masih cukup stabil di sekitar USD 1943.3 / ounce.