Mengapa ARA Beruntun 'Doyan Disuspensi Bursa' Ketimbang ARB?
Ilustrasi suspensi yang diakibatkan oleh kenaikan harga secara agresif.
Hal ini dapat mengganggu kepercayaan investor, yang pada gilirannya bisa memengaruhi likuiditas dan stabilitas pasar secara keseluruhan.
Kapan Suspensi ARB Diperlukan?
Meskipun suspensi pada ARB berturut-turut jarang terjadi, sebenarnya ada kalanya suspensi terhadap penurunan harga berturut-turut juga bisa diperlukan, terutama jika penurunan harga tersebut sangat tajam dan tidak dapat dijelaskan oleh faktor-faktor fundamental yang jelas. Jika penurunan harga disebabkan oleh faktor eksternal yang tidak diketahui atau adanya indikasi perdagangan tidak wajar, suspensi dapat membantu untuk menghentikan reaksi berlebihan dari pasar.
Namun, suspensi dalam kasus ini membutuhkan analisis lebih mendalam dari otoritas bursa, karena penurunan harga bisa saja disebabkan oleh kondisi pasar yang memang sedang dalam proses penyesuaian harga yang sehat. Maka dari itu, kebijakan suspensi terhadap ARB berturut lebih cenderung diterapkan hanya dalam situasi-situasi khusus yang dapat mengarah pada ketidakstabilan pasar.
Kesimpulan
Bursa Efek Indonesia (BEI) cenderung lebih sering melakukan suspensi pada saham yang mengalami ARA berturut dibandingkan dengan ARB berturut karena alasan utama untuk menghindari risiko spekulasi dan manipulasi pasar.
Kenaikan harga yang ekstrem dalam waktu singkat sering kali dipicu oleh faktor yang tidak fundamental dan bisa berisiko bagi investor, sehingga suspensi menjadi langkah yang tepat untuk menjaga stabilitas pasar.
Sebaliknya, penurunan harga yang terjadi berkelanjutan dianggap lebih wajar dan sering kali didorong oleh faktor fundamental.
Namun, perlu diingat bahwa kebijakan suspensi ini harus selalu dipertimbangkan secara hati-hati, dengan memperhatikan kondisi pasar secara keseluruhan. Mungkin ada situasi di mana penurunan harga berturut-turut juga membutuhkan intervensi agar pasar tetap berjalan dengan sehat dan menguntungkan bagi semua pihak.
Related News
Pergerakan Saham Konglomerasi Masih jadi Barometer Arah Pasar?
Prospek dan Peta Risiko Green Bond 2026
OJK Nilai Aturan Baru Pajak Kripto Modal Penting Pembangunan Industri
Rekor Aksi Korporasi Rp491T, Inikah Mesin Utama Ekonomi RI di 2026?
Laba Rekor, Kok Saham Ambles? Tantangan Emiten Bank Himbara 2026
Sebuah Studi Kasus, Regulasi Kebijakan Acuan Kunci Investasi





