EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street akhir pekan lalu berhasil ditutup menguat. Itu dipicu asa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan Oktober 2026 mendatang. Apalagi, setelah rilis data ketenagakerjaan cukup lemah. Berdasar data Biro Ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS), pada September lalu Nonfarm payrolls bertambah 29 ribu dengan angka pengangguran naik menjadi 4,2 persen.

Data tersebut jauh lebih sedikit dari bulan sebelumnya 133 ribu, dan juga lebih buruk dari ekspektasi dengan harapan ada penambahan pekerja 84 ribu dengan tingkat pengangguran 4,1 persen. Periode Juli 2026, angkanya juga direvisi dari sebelumnya ada penambahan menjadi sebaliknya yaitu berkurang 10 ribu.

Penguatan indeks bursa Wall Street seiring ekspektasi tidak ada kenaikan suku bunga acuan pada akhir Oktober 2026, diprediksi menjadi sentimen positif pasar. Koreksi mayoritas harga komoditas, dan aksi jual investor asing berlanjut berpeluang menjadi sentimen negatif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG).

So, IHSG diprediksi bergerak bervariasi cenderung menguat dengan kisaran support 5.980-5.920, dan resistance 6.090-6.150. Menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan saham Adaro Andalan (AADI), Bukit Asam (PTBA), Mitra Adiperkasa (MAPI), Erajaya (ERAA), Astra Agro (AALI), dan Merdeka Copper (MDKA). (*)