EmitenNews.com - Harga emas dunia melandai mendekati posisi USD4.150 per ons pada Rabu (7/10), pangkas sebagian keuntungan dari sesi sebelumnya seiring pulihnya harga minyak akibat risiko pasokan di Timur Tengah.

Berdasarkan data Trading Economics pada Rabu (7/10), pergerakan harga emas tertekan oleh kenaikan harga minyak yang kembali memicu perhatian pasar terhadap risiko inflasi global serta prospek kenaikan suku bunga acuan.

Kenaikan harga minyak dipicu oleh aksi Iran yang meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal tanker di Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir, serta berlanjutnya bentrokan antara pasukan Arab Saudi dengan kelompok Houthi.

Di saat yang sama, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tetap bertahan dekat level tertinggi dalam beberapa dekade. Kondisi tersebut terdorong oleh kekhawatiran atas inflasi yang terus berlanjut, tingginya risiko fiskal, serta maraknya penerbitan utang terkait sektor kecerdasan buatan (AI).

Di sisi kebijakan moneter, pelaku pasar memperkirakan adanya probabilitas hampir 80 persen bahwa The Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuan pada bulan ini. Prospek tersebut menguat setelah rilis data pertumbuhan lapangan kerja AS bulan September tercatat lebih rendah dari perkiraan, disertai revisi penurunan data penggajian (payroll) dua bulan sebelumnya.

Saat ini para investor sedang menantikan rilis risalah dari pertemuan terbaru The Fed guna mencari petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter AS ke depan.

Fluktuasi harga komoditas logam mulia tersebut turut memengaruhi arah pergerakan harga emas batangan di dalam negeri serta ekspektasi investor di pasar valuta asing.(*)