MTEL Wakili BUMN Masuk Klub HSC, Siapa Menyusul?
:
0
Pengurus MTEL kala menjelaskan sejumlah capaian sepanjang 2025. Foto - Dok Emitennews
EmitenNews.com - Dayamitra Telekomunikasi alias Mitratel (MTEL) memecah kebuntuan. Bukan karena sukses mencetak gol ke gawang lawan. Melainkan, MTEL menjadi satu-satunya emiten berstatus high shareholding concentration (HSC) dari jajaran Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Maklum, efek MTEL 95,58 persen terkonsentrasi pada segelintir kelompok. Itu berdasar metodologi penentuan kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi atas struktur kepemilikan saham dalam bentuk warkat, dan tanpa warkat per 1 Oktober 2026.
”Meski begitu, pengumuman tersebut tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan, dan ketentuan yang berlaku di bidang pasar modal,” tegas Yulianto Ayi Sadono, Direktur Bursa Efek Indonesia.
Performa Medio 2026
Paruh I-2026, Mitratel membukukan pendapatan Rp4,69 triliun, meningkat 2,1 persen secara tahunan (YoY). Pertumbuhan itu, terutama ditopang bisnis penyewaan menara sebagai core business dengan kontribusi 81,7 persen terhadap total pendapatan. Di sisi lain, bisnis fiber terus menunjukkan pertumbuhan kuat, dan makin berperan sebagai mesin pertumbuhan baru seiring strategi Mitratel membangun ekosistem infrastruktur digital terintegrasi.
Mitratel juga membukukan EBITDA Rp3,89 triliun, tumbuh 0,8 persen YoY, dengan EBITDA margin tetap tinggi 82,9 persen. Sementara itu, laba bersih mencapai Rp1,11 triliun, meningkat 1,5 persen YoY, dengan net profit margin 23,7 persen. Kinerja itu, mencerminkan kemampuan dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi operasional, dan disiplin pengelolaan biaya sehingga mampu menghasilkan pertumbuhan berkualitas, dan berkelanjutan.
Direktur Utama Mitratel, Theodorus Ardi Hartoko, mengatakan capaian itu, merupakan hasil implementasi strategi transformasi secara konsisten, sesuai arah transformasi Danantara, dan Telkom Group untuk memperkuat daya saing sekaligus menangkap peluang pertumbuhan jangka panjang sektor infrastruktur digital. Transformasi bukan sekadar memperluas portofolio bisnis, tetapi membangun fondasi pertumbuhan jangka panjang, dengan dorongan penguatan daya saing, penciptaan nilai tambah, dan peningkatan efisiensi sesuai langkah transformatif Danantara Indonesia dan Telkom Group.
”Mitratel terus berevolusi dari perusahaan menara menjadi penyedia infrastruktur digital terintegrasi melalui pengembangan solusi fiber, Fixed Wireless Access (FWA), hingga Power-as-aService (PaaS). Strategi itu, memperkuat posisi kami dalam mendukung percepatan digitalisasi Indonesia sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan baru berkelanjutan bagi perseroan,” tegas Theodorus Ardi Hartoko.
Nah, dari sisi operasional, Mitratel makin memperkokoh kepemimpinan sebagai perusahaan menara telekomunikasi terbesar Indonesia, dan Asia Tenggara. Semester I-2026, Mitratel mengelola 40.563 menara, dengan 59 persen berada di luar Pulau Jawa sebagai wilayah pertumbuhan utama. Strategi ekspansi itu, berhasil mendorong kolokasi tumbuh 10,3 persen YoY menjadi 23.303 tenant, sehingga meningkatkan tenancy ratio menjadi 1,57x. Peningkatan itu, mencerminkan optimalisasi aset makin tinggi sekaligus meningkatkan kepercayaan operator seluler terhadap kualitas infrastruktur Mitratel.
Sebagai bagian dari transformasi menuju Next-Generation Tower Company, Mitratel terus mempercepat pengembangan bisnis fiber kini menjadi salah satu mesin pertumbuhan utama. Paruh I-2026, jaringan fiber tumbuh 13,9 persen YoY menjadi 74.779 km billable length, memperkuat kapabilitas Mitratel dalam menghadirkan solusi infrastruktur digital makin terintegrasi. Transformasi itu, diperkuat melalui pengembangan solusi Fiber-to-the-Tower (FTTT) untuk mendukung layanan Fixed Wireless Access (FWA), dan Power-as-aService (PaaS) memberi solusi penyediaan energi lebih efisien, andal, dan berkelanjutan bagi operator telekomunikasi.
Related News
Susul MGLV, FILM Bebas Jeratan HSC
LTLS Manfaatkan Kas dan Kredit Bank untuk Lunasi Obligasi
Dua Raksasa Kertas Sinar Mas Lunasi Utang Triliunan
Perluasan HSC Makan Korban, 5 Emiten Masuk, dan 1 Bebas
Lima Emiten Baru Berstatus HSC, Lengkap 67 Jumlahnya
Bebas HSC, Emiten Boy Thohir Kebut Data Center Cikarang, dan Batang





