Negosiasi AS-Iran Buntu, Harga Minyak Brent Tembus USD87
:
0
Harga minyak mentah dunia melanjutkan tren penguatan dan bertahan di atas level USD82 per barel pada perdagangan Selasa.(Foto: Dok)
EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia melanjutkan tren penguatan dan bertahan di atas level USD82 per barel pada perdagangan Selasa. Ketegangan geopolitik ini turut memberikan tekanan bagi pasar keuangan dan inflasi di Indonesia akibat potensi pembengkakan beban subsidi energi serta kenaikan biaya impor bahan bakar domestik.
Pergerakan minyak acuan Brent juga tercatat bertahan di atas level USD87 per barel setelah menguat selama tiga sesi berturut-turut. Penguatan komoditas energi ini terdorong oleh meningkatnya ketidakpastian negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengakhiri konflik serta membuka kembali rute pelayaran strategis Selat Hormuz.
Trading Economics mencatat ketidakpastian pasar semakin memuncak setelah Presiden AS Donald Trump mengajukan sejumlah tuntutan baru yang cukup luas kepada pihak Teheran. Tuntutan tersebut mencakup pembayaran kompensasi bagi para korban yang tewas dalam konflik yang melibatkan Republik Islam Iran.
Langkah Washington tersebut bertepatan dengan sikap Teheran yang sebelumnya kembali menyuarakan tuntutan ganti rugi sebagai syarat negosiasi guna mengakhiri perselisihan antar kedua negara.
Persyaratan baru yang saling diajukan kedua belah pihak tersebut makin mengaburkan prospek tercapainya kesepakatan dalam jangka pendek. Kondisi ini membuat para pelaku pasar global tetap mewaspadai risiko gangguan pasokan minyak mentah dunia yang berkepanjangan.
Di sisi lain, Presiden Trump mengindikasikan opsi untuk membiarkan tekanan ekonomi terhadap Iran terus meningkat ketimbang meluncurkan aksi militer baru demi memaksa pembukaan kembali akses pelayaran Selat Hormuz.
Sementara itu, proses diplomasi di kawasan juga belum menunjukkan titik terang. Pemerintah Iran dan Oman dilaporkan belum mencapai kesepakatan resmi untuk membuka kembali jalur air tersebut, mengingat pihak Teheran menegaskan pembukaan Selat Hormuz sepenuhnya bergantung pada tercapainya kesepakatan dengan AS.(*)
Related News
Manufaktur Melonjak, Singapura Revisi PDB Tumbuh 5,9%
Bank Sentral Tiongkok Borong Emas, Harga Naik ke USD4.400
ICP Juli Susut ke USD81,68, Intip Prospek Emiten Minyak
Bayangkan! IPO Pegadaian, Pupuk Indonesia, dan Pelindo Ramaikan Bursa
Pengajuan Destry Sebagai Calon Gubernur BI Angkat Rupiah 0,18 Persen
Hampir Pasti Destry Damayanti Gubernur BI, Presiden Ajukan ke DPR





