EmitenNews.com - Tidak lagi butuh pendanaan dari pasar modal, PT Era Graharealty Tbk (IPAC) berencana mengubah statusnya dari perusahaan terbuka menjadi perusahaan tertutup atau go private. Emiten agen properti itu, sekaligus berencana menghapus pencatatan sahamnya (delisting) dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Manajemen berencana menggelar RUPSLB pada Selasa, 20 Oktober 2026 pukul 10.00 WIB.

Melalui keterbukaan informasi Jumat (11/9/2026), Direktur Utama Era Graharealty Darmadi Darmawangsa mengatakan, pemegang saham pengendali APAC Investment 2 Pte. Ltd. akan membeli saham publik melalui Penawaran Tender Sukarela (VTO) dengan harga Rp250 per saham.

Di pasar saham, IPAC ditutup di level Rp189 per saham pada Kamis (10/9/2026), naik 15,95% dalam sebulan dan 19,62% sepanjang 2026.

Rencana go private dan delisting merupakan bagian dari perubahan strategi bisnis perseroan. ERA Indonesia menilai perseroan tidak lagi membutuhkan pendanaan dari pasar modal, sekaligus ingin meningkatkan efisiensi, daya saing, dan fleksibilitas dalam pengembangan maupun restrukturisasi usaha.

Darmadi menyebutkan, pihaknya memutuskan untuk melaksanakan Rencana Go Private dan Delisting berdasarkan evaluasi secara menyeluruh atas strategi bisnis jangka panjang Perseroan dan Grup Perseroan dalam pengelolaan aset dan kegiatan operasional yang lebih efisien. Termasuk melalui restrukturisasi kepemilikan saham dalam Grup Perseroan.

APAC Investment 2 Kuasai 860,56 Juta, atau 90,60 Persen Saham IPC 

Data yang ada menyebutkan, per 31 Agustus 2026, APAC Investment 2 menguasai 860,56 juta saham atau 90,60% saham IPAC. Sementara itu, sebanyak 89,31 juta saham atau 9,40% dimiliki publik.

Dalam VTO, APAC Investment 2 akan menawarkan pembelian maksimal 89,31 juta saham publik atau setara 9,402% dari seluruh saham IPAC yang telah ditempatkan dan disetor penuh.

Penting diketahui harga VTO ditetapkan berdasarkan formula dalam POJK 45/2024. Dari perhitungan tersebut, harga acuan IPAC mencapai Rp173 per saham, sedangkan harga penawaran ditetapkan lebih tinggi, yakni Rp250 per saham. Jika seluruh saham publik mengikuti VTO, nilai pembelian diperkirakan mencapai sekitar Rp22,33 miliar.

Pelaksanaan VTO akan dilakukan setelah rencana go private dan delisting memperoleh persetujuan dalam RUPSLB.