EmitenNews.com - Hingga Agustus  2026, pada sisi intermediasi, pembiayaan PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) tumbuh lebih agresif yakni sebesar 16,21 persen (yoy) mencapai Rp344 triliun. Ini menunjukkan kemampuan BSI dalam mengoptimalkan likuiditas untuk mendorong ekspansi bisnis secara produktif dengan tetap memperhatikan kualitas pembiayaan.

Direktur Utama BSI (BRIS) Anggoro Eko Cahyo mengemukakan hal tersebut dalam keterangannya yang dikutip Selasa (6/10/2026).

Satu hal, meski tumbuh tinggi, perseroan menyampaikan pembiayaan ini dilakukan dengan penjagaan kualitas yang baik, ditandai dengan non-performing financing (gross) sebesar 1,8 persen.

Untuk fee based income (FBI) tumbuh sebesar 36,27 persen menjadi Rp 5,6 triliun, dengan peningkatan kontribusi terutama berasal dari bisnis treasury dan emas.

Penguatan ini, turut mendorong fee based ratio BSI menjadi 23,07 persen yang mencerminkan semakin beragamnya sumber pendapatan perseroan di luar bisnis pembiayaan.

Bisa dibilang transformasi bisnis PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) mulai menghasilkan pertumbuhan yang semakin seimbang. Itu yang dicapai, baik dari sisi pendanaan (funding), pembiayaan (financing), maupun non-financing income.

Hingga Agustus BSI Mencatat Laba Tumbuh 10,07 Persen

Lihat saja. Hingga Agustus 2026, BSI mencatat laba tumbuh 10,07 persen secara tahunan mencapai Rp5,30 triliun. Semua itu ditopang ekspansi bisnis, penguatan dana murah, akselerasi pembiayaan, serta kontribusi bisnis emas dan fee based income.

Bisa dilihat fundamental BSI semakin kuat. Pertumbuhan laba dua digit berjalan beriringan dengan penguatan CASA, pertumbuhan pembiayaan yang lebih tinggi, penurunan cost of fund, serta akselerasi fee based income. 

“Ini menunjukkan mesin pertumbuhan BSI semakin terdiversifikasi dan memiliki ruang untuk terus berkembang," kata Anggoro Eko Cahyo.Kemudian dari sisi funding, dana pihak ketiga (DPK) BSI tumbuh 17,71 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp389 triliun, dengan dana murah (CASA) mencapai Rp246 triliun.