EmitenNews.com - Kinerja keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk sepanjang paruh pertama tahun 2026 kembali memunculkan realitas bisnis yang penuh teka-teki. Di satu sisi, maskapai pembawa bendera negara ini berhasil mengumpulkan uang dari pelanggan dalam jumlah yang jauh lebih melimpah dibandingkan tahun lalu.

Namun di sisi lain, tumpukan uang yang masuk tersebut ternyata belum cukup kuat untuk mengangkat perusahaan terbang keluar dari kubangan kerugian. Untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik layar, kita perlu menelusuri secara detail dari mana saja sumber uang itu berasal, ke mana bocornya, dan unit bisnis mana yang sebenarnya menjadi mesin pencetak untung sejati bagi Garuda.

Dapur Pemasukan Utama Makin Mengebul

Sepanjang enam bulan pertama di tahun 2026, total uang yang sukses dikumpulkan Garuda dari seluruh kegiatan usahanya mencapai 1.795,44 juta dolar AS. Angka ini adalah sebuah pencapaian yang patut diapresiasi karena menunjukkan lompatan pemasukan yang lumayan besar jika disandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun lalu di angka 1.548,20 juta dolar AS.

Mesin pencetak uang paling utama tentu saja masih berasal dari rutinitas harian maskapai, yaitu penjualan tiket penerbangan berjadwal yang menyumbang pendapatan sebesar 1.313,48 juta dolar AS. Dari total tersebut, penjualan tiket untuk penumpang reguler menyumbang setoran paling jumbo senilai 1.230,41 juta dolar AS, sementara jasa pengiriman kargo dan dokumen ikut menyetor uang sebesar 83,07 juta dolar AS.

Selain mengandalkan rute reguler harian, Garuda juga ketiban rezeki nomplok dari penerbangan yang sifatnya musiman atau tidak berjadwal, dengan total pemasukan menembus 272,75 juta dolar AS. Bintang paling terang di layanan musiman ini adalah penerbangan untuk jamaah haji yang pemasukannya melonjak tajam menjadi 232,18 juta dolar AS, melesat jauh meninggalkan sumbangan tahun lalu yang hanya berkisar di angka 153,13 juta dolar AS.

Sayangnya, panen raya dari musim haji ini sedikit tertahan oleh bisnis penyewaan pesawat carter yang justru sepi peminat, sehingga pemasukannya anjlok menjadi 40,57 juta dolar AS dari sebelumnya 52,71 juta dolar AS. Di luar urusan tiket pesawat, jasa pendukung operasi Garuda ternyata juga tumbuh subur dengan total kontribusi 209,21 juta dolar AS.

Sumbangan terbesar di area pendukung ini datang dari bisnis perawatan pesawat yang sukses meraup 87,37 juta dolar AS, disusul oleh unit biro perjalanan yang berhasil menyetor 37,60 juta dolar AS ke kas perusahaan.

Uang Kas Ludes Tersedot Tagihan Bahan Bakar Pesawat

Meskipun pendapatan dari tiket penumpang naik drastis, uang yang harus dihabiskan Garuda untuk membiayai operasional pesawat ternyata ikut membengkak menjadi 961,02 juta dolar AS dari sebelumnya hanya 765,27 juta dolar AS. Biang kerok utama dari meroketnya tagihan operasional ini adalah pengeluaran gila-gilaan untuk membeli bahan bakar pesawat atau avtur.