Pendapatan Naik, PYFA Pangkas Rugi Hingga 99,4 Persen Per Juni 2026
:
0
logo Pyridam Farma di salah satu fasilitas produksi emiten berkode PYFA. DOK/PYFA
EmitenNews.com -PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) mencatatkan perbaikan kinerja operasional yang signifikan sepanjang Semester I 2026. Melansir dari keterbukaan informasi, Perseroan membukukan pendapatan neto sebesar Rp1,62 triliun, tumbuh 16,8% dibandingkan Rp1,38 triliun pada periode yang sama tahun 2025. Rugi usaha Perseroan menyusut nyaris sepenuhnya seiring disiplin efisiensi dan penguatan permintaan layanan CDMO baik di Indonesia maupun Australia.
Pertumbuhan pendapatan terutama ditopang oleh kuatnya penjualan Probiotec di Australia, yang terus mencatat kinerja positif di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Kontribusi entitas di Indonesia relatif stabil, seiring Perseroan melanjutkan inisiatif restrukturisasi portofolio untuk memperkuat profil profitabilitas ke depan. Perbaikan dari sisi pendapatan juga didorong oleh optimalisasi model bisnis serta efisiensi di berbagai proses operasional yang berhasil menekan beban-beban produksi.
Laba bruto tumbuh 27% menjadi Rp373,13 miliar, dengan margin laba bruto menguat menjadi 23% dari 21% pada Semester I 2025. Perbaikan ini terutama didorong oleh penurunan biaya bahan baku melalui inisiatif penghematan pengadaan, serta penyerapan biaya produksi tetap yang lebih efisien seiring meningkatnya volume penjualan.
Direktur PYFA, Sinta Ningsih, menjelaskan bahwa pencapaian pada paruh pertama tahun 2026 ini merupakan hasil dari langkah efisiensi yang konsisten. Perseroan terus berupaya menekan biaya operasional di berbagai lini tanpa mengurangi kualitas produk. Langkah strategis ini terbukti mampu memperbaiki struktur biaya dan memperkuat fundamental keuangan perusahaan.
“Kami melihat perbaikan yang konsisten pada kinerja operasional Perseroan, tercermin dari pertumbuhan pendapatan yang diiringi perbaikan margin laba bruto serta penyusutan rugi usaha yang signifikan. Ini adalah hasil dari disiplin efisiensi biaya, penguatan portofolio produk bernilai tambah tinggi, serta kontribusi layanan CDMO. Kami akan terus fokus mempercepat perbaikan profitabilitas ke depan seiring dengan proyek ekspansi kapasitas manufaktur pada Lini Produksi 4 setelah selesainya Lini Produksi 3 PT Ethica Industri Farmasi,” ujar Sinta Ningsih.
Perseroan terus menunjukkan perbaikan kinerja operasional yang signifikan. Hal ini tercermin dari rugi usaha yang hampir mencapai titik impas, dengan penurunan sebesar 99% dari Rp68,40 miliar menjadi hanya Rp0,38 miliar. Di saat yang sama, rugi periode berjalan juga membaik sebesar 16%, dari Rp213,20 miliar menjadi Rp178,28 miliar, mencerminkan efektivitas berbagai inisiatif transformasi dan peningkatan efisiensi yang dijalankan Perseroan.
Mempertegas komitmen pada keunggulan manufaktur, PYFA melalui anak usahanya, PT Ethica Industri Farmasi, sebelumnya telah merampungkan pembangunan Lini Produksi 3. Pembangunan yang diselesaikan ini dirancang untuk menjawab peningkatan kebutuhan obat injeksi steril nasional, khususnya bagi layanan rumah sakit dan program kesehatan pemerintah. Dengan beroperasinya Lini 3 secara komersial, Perseroan saat ini memfokuskan pengerjaan fisik untuk pembangunan Lini Produksi 4 yang secara khusus dirancang untuk jenis sediaan farmasi yang berbeda guna memperluas portofolio produk di masa depan.
Ke depan, Perseroan akan tetap berfokus pada strategi penguatan portofolio produk farmasi berlisensi tinggi, optimalisasi jaringan distribusi, ekspansi kapasitas manufaktur melalui penyelesaian pembangunan Lini Produksi 4, serta pengembangan lini bisnis kesehatan terintegrasi guna mempercepat pencapaian profitabilitas yang berkelanjutan.
Related News
TPIA Jelaskan Penurunan Laba, H1-2025 Didorong Keuntungan Sekali Saja
Sales Rp65T, Core Profit INDF Naik meski Laba Bersih Tertekan Kurs
Naik 6,8 Persen, Bank Neo (BBYB) Cetak Laba Bersih Rp294,85 Miliar
Terus Ciptakan Nilai Tambah, SBMA Perkuat Transformasi Keberlanjutan
Akselerasi Transformasi TLKM 30, Raih Pendapatan Konsolidasi Rp75,9T
Kantongi Laba Bersih di Q2, Analis Ini Nilai GOTO Lampaui Ekspektasi





