EmitenNews.com - PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) mencatat lonjakan laba bersih di tengah tekanan pendapatan pada kuartal I-2026. Kinerja emiten pelat merah pertambangan dari MIND ID itu terpantau profitabel di tengah dinamika harga komoditas.

Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail dikutip Minggu (3/5/2026) mengatakan, “Di tengah tantangan curah hujan yang tinggi pada awal tahun, Perseroan mampu menjaga stabilitas penjualan melalui pengelolaan persediaan yang prudent, sekaligus melanjutkan disiplin efisiensi dan selective mining yang mendorong perbaikan struktur biaya. Hasilnya, Perseroan membukukan pertumbuhan laba secara tahunan yang solid, yang merupakan bukti nyata dari ketahanan operasional dan efektivitas strategi yang kami jalankan.”

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan Kamis (30/4/2026), PT Bukit Asam Tbk. membukukan laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp801,79 miliar, melonjak 104,81 persen secara year on year (yoy) dari Rp396,77 miliar.

Kenaikan dua kali lipat itu diraih meski pendapatan tercatat turun tipis 0,29 persen yoy menjadi Rp9,93 triliun dari Rp9,96 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sebagian besar pendapatan masih ditopang penjualan batu bara yang berkontribusi 98,14 persen, sementara sisanya berasal dari aktivitas non-batu bara seperti listrik, briket, CPO dan inti sawit, jasa kesehatan, serta sewa.

Adapun, konflik di Selat Hormuz yang terjadi pada akhir Februari 2026 sudah mulai berdampak pada peningkatan harga BBM/liter, meskipun untuk periode ini masih relatif kecil (+3% YoY). Hal tersebut tentunya akan berdampak pada peningkatan biaya bahan bakar yang digunakan oleh Perusahaan, baik untuk kegiatan penambangan maupun angkutan kereta api.

Di sisi biaya, perseroan berhasil menekan beban pokok pendapatan sebesar 5,89 persen yoy menjadi Rp8,38 triliun dari Rp8,91 triliun. Efisiensi ini mendorong laba bruto naik 47,42 persen yoy menjadi Rp1,54 triliun dari Rp1,05 triliun. Sejalan dengan itu, laba usaha ikut melonjak menjadi Rp878,03 miliar dari Rp442,81 miliar.

Posisi neraca PTBA di kuartal I-2026 ini total aset tertakar Rp43,23 triliun per 31 Maret 2026, turun sekitar 2 persen dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp43,92 triliun, terutama akibat berkurangnya kas, setara kas, dan persediaan.

Sementara itu, total liabilitas turun lebih dalam sebesar 8 persen menjadi Rp19,56 triliun dari Rp21,30 triliun. Kemudian, ekuitas meningkat 5 persen menjadi Rp23,67 triliun dari Rp22,62 triliun.