EmitenNews.com - Harga emas spot melanjutkan tren penurunan pada perdagangan Selasa (20/10). Berdasarkan data Bloomberg, harga emas spot terkoreksi 0,1 persen menjadi USD4.134,91 per ons pada pukul 07.47 pagi waktu Singapura, setelah sempat melemah 0,6 persen pada sesi sebelumnya.

Penurunan harga logam mulia ini dipicu oleh lonjakan harga minyak global yang mendekati level tertinggi dalam lima bulan terakhir, sehingga memicu kembali kekhawatiran inflasi. Ketegangan pasar energi meningkat setelah Iran menyatakan potensi penegasan kendali atas Selat Hormuz, serta penolakan Kongres AS terhadap kesepakatan ekspor diesel Rusia.

Langkah dan arah kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve, kini menjadi fokus utama para pelaku pasar. Ketua Fed Kevin Warsh memberikan sinyal terkait sikap kebijakan moneter AS menjelang pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pekan depan.

"Suku bunga diisyaratkan tetap dipertahankan tidak berubah menjelang pertemuan FOMC minggu depan," kata Ketua Fed Kevin Warsh.

Pernyataan tersebut menyebabkan probabilitas kenaikan suku bunga AS sebesar 0,25 persentase poin pada bulan ini turun menjadi di bawah 20 persen, dari sebelumnya mencapai 67 persen pada akhir bulan lalu. Meski demikian, pasar memperkirakan peluang sebesar 90 persen bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan sekali lagi sebelum akhir tahun 2026. Prospek suku bunga tinggi ini menekan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.

Pasar logam mulia lainnya turut mencatatkan penurunan. Harga perak spot melemah 0,3 persen menjadi USD56,93 per ons, sementara harga platinum dan paladium juga terkoreksi tipis di tengah penguatan Indeks Spot Dolar Bloomberg.

Pergerakan harga emas dunia yang berada di kisaran USD4.134 per ons ini memberikan dampak langsung terhadap pasar komoditas Indonesia. Fluktuasi harga emas global berpotensi memengaruhi pergerakan harga emas batangan Antam di dalam negeri serta tren investasi aset safe haven bagi masyarakat Indonesia.(*)