EmitenNews.com - Harga perak dunia melanjutkan tren kenaikan hingga menyentuh kisaran USD66 per ons pada perdagangan hari Selasa. Capaian ini menjadi level tertinggi dalam tujuh minggu terakhir, beriringan dengan reli logam mulia lainnya yang didorong oleh peningkatan permintaan investasi.

Kenaikan harga perak tetap terjadi di tengah melonjaknya harga minyak dunia yang memicu risiko inflasi serta membakar ekspektasi kenaikan suku bunga acuan. Selain terdorong permintaan investasi, logam putih ini mendapat sentimen positif dari kuatnya permintaan sektor industri, khususnya ekspansi produksi panel surya dan jaringan listrik global.

Berdasarkan data Trading Economics, lonjakan permintaan industri tecermin dari data impor bijih perak Tiongkok yang melonjak 62,5 persen secara tahunan pada bulan Juni menjadi 219.000 ton. Angka tersebut mengonfirmasi kuatnya konsumsi bahan baku perak di kawasan Asia untuk manufaktur dan teknologi hijau.

Sementara itu, kondisi geopolitik global masih dibayangi ketidakpastian terkait potensi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik serta membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz.

Situasi ini membuat para pelaku pasar bersikap waspada terhadap prospek inflasi, sembari menunggu rilis data inflasi penting dari Amerika Serikat pekan ini guna membaca arah kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve.

Penguatan harga perak di pasar global ini memberikan dampak bagi dinamika komoditas di Indonesia. Sebagai salah satu negara yang sedang mengembangkan industri energi terbarukan dan infrastruktur kelistrikan, kenaikan harga bahan baku perak berpotensi memengaruhi biaya produksi komponen energi surya serta pergerakan harga investasi logam mulia di pasar domestik.(*)