EmitenNews.com - Memasuki awal tahun 2026, investor tengah menghitung langkah bijak investasinya di pasar modal. Berdasarkan performa pasar sendiri, pergerakan mengesankan dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tahun 2025 masih dibayangi ketidakpastian global dan perlambatan ekonomi dunia. Sejumlah investor domestik merasa perlu menata ulang formula diversifikasi portofolionya memasuki tahun ini.

IHSG sempat tersendat di paruh pertama tahun 2025. Data perdagangan pada 11 Februari 2025 menunjukkan IHSG mengalami depresiasi 12,5 persen ke level 6.531, tertekan isu ketidakpastian ekonomi global serta kekhawatiran terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed). Pada tahun 2026, The Fed diprediksi bakal menahan kenaikan suku bunga untuk menyeimbangkan stabilitas harga dan kondisi tenaga kerja domestiknya.

Isu perang dagang Amerika Serikat vs Tiongkok yang kembali memanas pada pertengahan tahun lalu sempat membuat kinerja IHSG anjlok 12,77 persen ke level 5.996 pada April 2025. Disusul gejolak politik dalam negeri pada 9 September 2025 yang membuat IHSG kembali terkoreksi sebesar 3,26 persen ke level 7.628.

Kendati terganjal sentimen negatif beberapa kali, kinerja IHSG tetap tangguh. Data IndoPremier Sekuritas mencatat IHSG menguat 22,13 persen sepanjang tahun 2025. Sempat mencapai rekor tertinggi all-time high di level 8.710 pada 8 Desember 2025, IHSG akhirnya menutup tahun di level 8.646 pada 30 Desember 2025.

Data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan jumlah investor pasar modal pada tahun 2025 mengalami peningkatan 20,3 juta investor, atau tumbuh 36,67 persen dibanding tahun 2024. Catatan positif ini tidak lepas dari kinerja ekonomi domestik yang stabil dengan pertumbuhan ekonomi di level 5,4 persen Year to Date (YTD). Faktor eksternal seperti turunnya suku bunga The Fed dan melemahnya mata uang dolar AS turut menyokong kinerja pasar modal.

Filosofi Tahun Kuda Api 

Tahun 2026 menjadi periode istimewa karena dikenal sebagai "Tahun Kuda Api" (Fire Horse). Dalam astrologi Tionghoa, kuda melambangkan kekuatan dan kecepatan, sementara api melambangkan gairah dan transformasi. Kombinasi ini menciptakan energi yang penuh keberanian, namun investor tetap harus mawas diri. Keberanian saja tidak cukup; diperlukan kehati-hatian dan keseimbangan emosi agar agresivitas investasi tidak berbalik menjadi risiko yang membakar portofolio sendiri.

Proyeksi dan Paradoks Sektoral 

Sejumlah lembaga sekuritas memproyeksikan IHSG bakal bergerak signifikan di tahun 2026. JP Morgan memproyeksikan IHSG di level 9.100–10.000, sementara Mirae Asset Sekuritas Indonesia melihat peluang pertumbuhan hingga mencapai 10.500. Optimisme ini didorong oleh sentimen optimisme pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan mencapai 6 persen oleh pemerintah.

Namun, investor perlu mencermati paradoks yang terjadi. Data perdagangan tahun 2025 menunjukkan sektor teknologi naik fantastis sebesar 138,35 persen (YTD). Sementara itu, saham-saham blue chip, terutama sektor perbankan dan energi, cenderung tertinggal. Kenaikan sektor teknologi yang masif ini sering kali menjadi sinyal overheating yang menuntut kewaspadaan akan terjadinya pembalikan arah (mean reversion).

Agenda utama pemerintah melalui Danantara, hilirisasi energi, serta program ketahanan pangan layak menjadi bahan pertimbangan dalam menata ulang portofolio. Sektor infrastruktur, kesehatan, dan teknologi diprediksi tetap mendapatkan porsi besar, namun pemilihan emiten harus tetap berbasis pada analisis fundamental yang komprehensif.

Jangan letakkan dana investasi Anda dalam satu keranjang dan jangan hanya mengejar iming-iming return tinggi. Perhitungan profil risiko dan kewaspadaan terhadap angka inflasi tetap menjadi kunci. Semoga di tahun 2026 ini, keberuntungan tetap berpihak pada keputusan investasi yang disiplin dan terukur.

Meskipun optimisme tahun baru cukup tinggi, pembaca disarankan meninjau kembali risiko sektoral untuk menjaga keseimbangan portofolio.