EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,22 persen menjadi 8.925, setelah sempat menembus level psikologis 9.000. Sektor basic material mencatat koreksi terbesar akibat profit taking. Sebaliknya sektor transportasi rebound sehingga membukukan penguatan terbesar. 

Rupiah berlanjut melemah pada level Rp16.785 per dolar Amerika Serikat (USD). Itu didorong peningkatan ketidakpastian geopolitik global, dan defisit APBN 2025 lebih besar dari target. Secara teknikal, indikator Stochastic RSI indeks berada di area overbought, dan berpotensi membentuk death cross.

Selain itu, indeks membentuk pola Shooting Star. Itu mengindikasikan potensi pembalikan arah setelah reli selama beberapa hari terakhir, dan mencapai level tertinggi baru. Sehingga diperkirakan indeks berpotensi melanjutkan koreksi teknikal menguji level 8.850-8.900. 

Di sisi lain, defisit APBN mencapai Rp695,1 triliun per Desember 2025 atau setara 2,92 persen dari product domestic bruto (PDB), lebih tinggi dari defisit tahun 2024 sebesar 2,3 persen dari PDB, dan melampaui target defisit APBN 2025 sebesar 2,53 persen dari PDB. Keseimbangan primer APBN juga mencatat defisit Rp180.7 triliun. 

Realisasi penerimaan negara mencapai 91,7 persen dari target, dan realisasi belanja negara sebesar 96,3 persen dari anggaran. Data cadangan devisa Indonesia Desember 2025 meningkat menjadi USD156.5 miliar dari November 2025 di level USD150.1 miliar. 

Kenaikan itu, terutama didorong penerimaan pajak dan jasa, penerbitan sukuk global oleh pemerintah, dan penarikan pinjaman luar negeri. Selanjutnya, investor akan menanti data consumer confidence dan penjualan otomotif. Berdasar data itu, Phintraco Sekuritas menyarankan investor menjala saham UNVR, ACES, SMDR, BKSL, dan SIDO. (*)