Respons Amuk Karhutla, ini Penjelasan Grup Salim
:
0
Karhutla makin meluas dan masuk kawasan permukiman warga. Foto - Dok BBC News
EmitenNews.com - Perkebunan Salim Ivomas (SIMP), dan anak usaha tersebar di berbagai provinsi. Baik di Pulau Jawa, Pulau Sumatra, Pulau Kalimantan, dan Pulau Sulawesi. Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia pada 2026 mengalami peningkatan signifikan.
Karhutla itu, dipicu musim kemarau panjang, curah hujan mendekati nol sehingga tidak ada pasokan air cukup. Kondisi itu, diperparah dengan faktor cuaca ekstrem fenomena El Nino berkepanjangan berpotensi memicu peningkatan titik-titik api (hotspots).
Faktor penyebab lain aktivitas manusia berupa pembukaan lahan dengan cara membakar (slash-and-burn). SIMP dalam menjalankan kegiatan usaha perkebunan, perseroan secara konsisten menerapkan kebijakan larangan pembakaran (zero burning policy) ketat, dan membersihkan lahan secara mekanis untuk lahan perkebunan tidak produktif.
Selain menerapkan kebijakan larangan pembakaran lahan, SIMP setiap saat melakukan pemantauan, dan identifikasi titik-titik api (hotspots) di area perkebunan Grup SIMP, karena titik-titik api (hotspots) tidak ditangani dengan segera akan berpotensi mengakibatkan terjadinya kebakaran.
SIMP secara proaktif menggunakan data satelit dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan U.S.National Aeronautics and Space Administration (NASA). Kemudian data tersebut dicocokkan dengan peta konsesi resmi Perseroan. Nah, dari kegiatan itu, titik-titik api terpantau muncul secara acak dalam skala kecil di area perkebunan milik Grup SIMP sehingga langsung dapat segera ditangani agar tidak terjadi kebakaran.
SIMP juga senantiasa memastikan langkah-langkah pencegahan, dan penanggulangan kebakaran sesuai dengan prosedur berlaku termasuk kelengkapan infrastruktur sarana dan prasana, dengan melengkapi setiap perkebunan dengan kendaraan, peralatan pemadam kebakaran, karyawan bertugas diwajibkan untuk mengikuti pelatihan rutin dalam pencegahan, dan tanggap darurat.
Perseroan juga berkolaborasi dengan masyarakat untuk meningkatkan kapasitas dan pengetahuan dalam pencegahan kebakaran. ”Sampai dengan saat ini, tidak ada dampak material terhadap kegiatan usaha atau kelangsungan usaha perseroan,” tegas Meyke Ayuningrum, Corporate Secretary Salim Ivomas Pratama. (*)
Related News
Genjot Produksi Pani Gold Mine, EMAS Akselerasi Proyek CIL 2
Gelontor Rp387,22 Miliar, Pengendali Baru Tuntaskan MTO Saham MBSS
Makin Parah, Rugi ADCP Bengkak 1.308 Persen
MSCI Terapkan Pembekuan Indeks MSCI Turki
Anak Usaha AALI Terdampak Karhutla, Target Produksi 2026 Diklaim Aman
NSSS Ditinggalkan Komisaris Independen yang Kini Jadi Menko Polkam





