EmitenNews.com - Bayan Resources (BYAN) tengah menjadi sorotan, dan menghadapi tekanan beruntun. Tekanan saham belum berakhir, muncul kabar kurang sedap dari entitas usaha. Setidaknya, tiga anak usaha tidak mampu memenuhi kewajiban penyediaan batu bara kepada para pelanggan.

Ketiga anak usaha yang mengalami keadaan kahar alias force majeure itu antara lain Tiwa Abadi (TA), Tanur Jaya (TJ), dan Fajar Sakti Prima (FSP). Kondisi fore majeure tersebut terjadi karena persetujuan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 untuk ketiga anak usaha belum diterbitkan.

Padahal, permohonan persetujuan perubahan RKAB telah diajukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ketetapan persetujuan RKAB tersebut sangat diperlukan. Itu penting agar ketiga anak usaha perseroan dapat menjalankan kegiatan produksi batu bara secara sah.

”Dengan kondisi saat ini, tentu memengaruhi kemampuan perseroan, dan anak usaha untuk memenuhi kewajiban yaitu pasokan batu bara kepada para pelanggan," tukas Low Yi Ngo, Direktur Bayan Resources.

Menyusul kondisi itu, BYAN bersama ketiga anak usaha mengonfirmasi kepada para pelanggan, kalau keadaan tersebut merupakan peristiwa force majeure. Pemberitahuan tersebut telah disampaikan kepada para pelanggan pada 11 September 2026. Persetujuan perubahan RKAB 2026 belum terbit menimbulkan dampak cukup material terhadap kelangsungan usaha.

”Pemberitahuan force majeure tersebut dilakukan sebagai langkah untuk meminimalkan risiko dan/atau konsekuensi yang mungkin timbul bagi Bayan Resources maupun ketiga anak usaha,” tegasnya.

Saham Ambruk

Jamak diketahui, saham BYAN terus memburuk. Sepanjang perdagangan kemarin, saham emiten asuhan Dato Low Tuck Kwong itu, ambruk 10,12 persen setara 1.250 poin menjadi Rp11.100. Efeknya, kapitalisasi pasar BYAN tersisa Rp370 triliun.

BYAN mengawali perdagangan di level Rp12.350, sempat menyentuh level tertinggi Rp12.400, dan terendah Rp10.625. Kalau dihitung dalam tempo lima hari, saham BYAN ambrol 20,71 persen alias 2.900 poin dari edisi 8 September 2026 di kisaran Rp14.000.

Selanjutnya, kalau dikalkulasi berdasar penutupan perdagangan 18 Agustus 2026 sebesar Rp17.275, saham BYAN drop 35,74 persen. Perosotan saham BYAN itu, mulai terjadi sejak Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam menawar 62,2 persen saham BYAN sekitar USD3 miliar atau Rp49,8 triliun. Nilai tersebut jelas sangat jomplang dibanding kapitalisasi perseroan.