Seirama Wall Street, IHSG Tertekan
:
0
Petugas kebersihan tampak menyisir area teras Bursa Efek Indonesia. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street akhir pekan lalu ditutup melemah signifikan. Kondisi itu mengantarkan Nasdaq mencatat rekor pelemahan terburuk sejak April tahun lalu. Itu dipicu aksi jual investor saham produsen chip. Selanjutnya, investor kemudian masuk saham sektor teknologi.
Relokasi portofolio itu terjadi setelah rilis data nonfarm payroll dengan indikasi The Fed belum akan menurunkan suku bunga acuan dalam waktu dekat. Berdasar data Biro Statistik Ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS), pada Mei lalu tercatat ada penambahan jumlah pekerja 172 ribu, jauh lebih tinggi dari ekspektasi ekonom 80 ribu.
Soliditas data ketenagakerjaan di tengah lonjakan angka inflasi akan membuat The Fed lebih memilih untuk menahan suku bunga acuan. Pasalnya, kalau diturunkan malah akan membuat inflasi makin tinggi. Efeknya, akan membuat daya beli melemah pada ujungnya menghambat pertumbuhan ekonomi.
Koreksi indeks bursa Wall Street, dan harga mayoritas komoditas diprediksi menjadi sentimen negatif pasar. Sementara itu, aksi jual masif investor asing dalam jumlah cukup besar berpeluang menjadi tambahan sentimen negatif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG). So, IHSG diprediksi melanjutkan pelemahan.
Sepanjang perdagangan hari ini, Senin, 8 Juni 2026, IHSG akan menyusuri kisaran support 5.450-5.305, dan resistance 5.740-5.885. Menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan saham Timah (TINS), J Resources (PSAB), Alamtri (ADMR), Cimory (CMRY), Unilever (UNVR), dan Mitra Adiperkasa (MAPI). (*)
Related News
Kacau, IHSG Dibuka Menjunam Dekati 4 Persen ke 5.300!
Permintaan Saham SpaceX Jelang IPO Oversubscribed Dua Kali Lipat
IHSG Kembali Diskon 8,69 Persen, Kapan Saatnya Average Down?
Peluang Rebound IHSG Masih Ada? Ini Prediksi Analis
Rontoknya Saham Semikonduktor AS Berimbas ke Korea, Kospi Anjlok 8,37%
Fluktuasi Makin Parah, IHSG Tanpa Arah





