EmitenNews.com - PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT) mengungkap sejumlah faktor yang dinilai memengaruhi lonjakan harga sahamnya sepanjang September 2026. Saham emiten batu bara ini naik 76,4% Rp1.995 per saham pada awal September hingga ditutup di level Rp3.520 pada 30 September 2026.

Dalam materi paparan publik insidentil yang dikutip Minggu (18/10/2026), perseroan juga mencatat harga saham SMMT meningkat 68,4% per 30 September 2026, dibandingkan sejak Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan status unusual market activity (UMA) pada 3 September 2026, ketika saham berada di level Rp2.090 per saham.

BEI menghentikan sementara perdagangan saham SMMT pada 1 Oktober 2026 sebagai langkah cooling down menyusul kenaikan harga kumulatif yang signifikan.

Manajemen SMMT menyebut lonjakan volume transaksi menjadi salah satu faktor yang mewarnai pergerakan saham. Volume perdagangan tercatat mencapai 4,15 juta saham pada 16 September 2026.

Selain aktivitas transaksi, perseroan menyoroti pertumbuhan kinerja operasional dan keuangan grup sepanjang 2026. Kenaikan harga acuan batu bara Indonesia (Indonesia Coal Index/ICI) juga dinilai berpotensi memperbaiki prospek profitabilitas serta memperkuat ekspektasi investor terhadap pertumbuhan laba.

Meski demikian, kinerja keuangan SMMT hingga semester I-2026 menunjukkan hasil yang beragam. Perseroan membukukan penjualan bersih USD61,59 juta, tumbuh 14% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, laba bersih tercatat USD3,81 juta, turun 3% dibandingkan semester I-2025.

Produksi batu bara perseroan selama tahun 2026 turun 260.000 ton atau 24% dari tahun 2025 karena RKAB TRA 2026 yang baru diterbitkan pada akhir bulan Maret dan tidak ada produksi dari PT Internasional Prima Coal (IPC), pemegang IUP Batubara di Kalimantan Timur. Kepemilikan SMMT di IPC secara tidak langsung melalui PT Mega Raya Kusuma.

PT Golden Eagle Energy Tbk memiliki entitas anak secara langsung maupun tidak langsung, yang terdiri dari PT Rajawali Resources, PT Nagamas Makmur Jaya, PT Bara Enim Sejahtera, PT Triaryani yang memegang IUP batu bara di Sumatera Selatan, dan PT Mega Raya Kusuma.