EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia melanjutkan tren kenaikan pada awal pekan pascaserangan militer di Bandara Internasional King Khalid Riyadh, Arab Saudi, yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Pada perdagangan Senin (12/10/2026), harga minyak mentah menguat hingga di atas USD92 per barel, sedangkan harga minyak mentah acuan Brent naik mendekati USD104 per barel. Penguatan ini menandai kenaikan harga untuk sesi ketiga berturut-turut.

Eskalasi geopolitik meningkat setelah Bandara Internasional King Khalid kembali menjadi sasaran militan Houthi yang didukung Iran pada Minggu (11/10/2026). Insiden tersebut menyusul serangan sehari sebelumnya pada Sabtu (10/10/2026) yang menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 300 orang.

Serangan ini mendorong Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempertimbangkan untuk bergabung bersama Arab Saudi dalam melakukan aksi balasan terhadap kelompok Houthi di Yaman. Selain insiden bandara, serangan drone juga melanda sebuah kapal tanker di dekat pelabuhan Sohar, lepas pantai Oman, pada akhir pekan.

Sementara itu, dalam kesempatan terpisah, Presiden Donald Trump menyampaikan bahwa Rusia dan Ukraina telah menyetujui kesepakatan gencatan senjata sektor energi.

"Rusia dan Ukraina telah menyetujui gencatan senjata energi yang berlaku segera," kata Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Di dalam negeri AS, Departemen Energi mengumumkan persetujuan pertukaran darurat hingga 4 juta barel minyak mentah dari Cadangan Minyak Strategis (SPR). Langkah ini diambil guna mengatasi gangguan pasokan akibat dampak Badai Isaias di Teluk Meksiko.

Lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik Timur Tengah ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan pelaku pasar di Indonesia, khususnya terkait potensi pembengkakan subsidi energi, tekanan terhadap ICP, serta pergerakan nilai tukar rupiah.(*)