EmitenNews.com - Setelah mencatatkan kerugian yang cukup menguji psikologis investor pada tahun buku 2025, PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) akhirnya mulai menunjukkan titik terang. Laporan keuangan kuartal pertama 2026 secara meyakinkan mengonfirmasi bahwa perseroan tengah bertransisi.

Pendapatan usaha saham SSIA secara konsolidasi mencatatkan kenaikan sebesar 35% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp1,44 triliun. Laba kotor perseroan bahkan naik melonjak tajam 125% YoY mencapai Rp451,87 miliar. Perluasan margin kotor ini menjadi sinyal awal membaiknya efisiensi dan pergeseran bauran penjualan (sales mix) ke produk dengan marjin tinggi.

Kabar baiknya, SSIA mencatatkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp89,01 miliar pada kuartal pertama 2026. Capaian ini secara utuh membalikkan defisit Rp21,70 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, sekaligus menghasilkan Laba Per Saham (EPS) positif Rp18,92 per lembar. 

Apa yang sebenarnya terjadi selama periode pertama tahun ini sehingga membalikkan kondisi bisnis SSIA?

Bukan Konstruksi, Ini Penopang Utama Profitabilitas SSIA

Jika kita menelusuri isi catatan di laporan keuangan mengenai Pendapatan Segmen Usaha, pembalikan arah (turnaround) ini tidak didorong oleh lini jasa konstruksi yang selama ini menjadi kontributor pendapatan terbesar, yang justru turun tipis 2,3% menjadi Rp788,64 miliar. Mesin pertumbuhan sebenarnya dan yang paling ditunggu oleh pasar adalah terealisasinya serah terima dan monetisasi lahan kawasan industri SSIA.

Pendapatan dari segmen lahan kawasan industri mengalami pertumbuhan masif sebesar 414% YoY menjadi Rp406,01 miliar, dibandingkan Rp78,85 miliar pada Q1 2025. Segmen ini berdiri sebagai penopang profitabilitas utama dengan hasil segmen bersih sebesar Rp252,72 miliar. Di sisi lain, lini perhotelan turut memberi bantalan pendapatan tambahan dengan kenaikan 63% YoY menjadi Rp162,43 miliar, membuktikan normalisasi perjalanan bisnis pasca-restrukturisasi.

SSIA Agresif Berekspansi, Konservatif Berutang

Sebuah proyeksi bisnis yang berkesinambungan membutuhkan dukungan neraca keuangan (balance sheet) yang disiplin. Pada akhir Q1 2026, total aset perseroan bertambah menjadi Rp12,89 triliun. Menariknya, pos "Tanah untuk Pengembangan" bertambah menjadi Rp4,48 triliun. Ini menegaskan bahwa perseroan masih secara aktif melakukan akuisisi dan pematangan lahan, memposisikan Subang Smartpolitan sebagai inventaris bernilai tinggi untuk kuartal-kuartal berikutnya.

Satu hal yang jarang menjadi sorotan utama adalah kebijakan struktur modal grup. Untuk sebuah entitas yang tengah mengeksekusi pembangunan infrastruktur kawasan dari nol, SSIA memformulasikan utang berbunga (interest-bearing debt) di level Rp2,35 triliun. Angka ini menerjemahkan rasio utang berbunga terhadap ekuitas (Debt-to-Equity Ratio) di angka konservatif 0,28 kali, jauh di bawah batas toleransi wajar dan memberikan ruang ungkit (leverage room) yang sangat memadai jika ekspansi lanjutan diperlukan.