IDXINDUST

 0.00%

IDXINFRA

 0.00%

IDXCYCLIC

 0.00%

MNC36

 0.00%

IDXSMC-LIQ

 0.00%

IDXHEALTH

 0.00%

IDXTRANS

 0.00%

IDXENERGY

 0.00%

IDXMESBUMN

 0.00%

IDXQ30

 0.00%

IDXFINANCE

 0.00%

I-GRADE

 0.00%

INFOBANK15

 0.00%

COMPOSITE

 0.00%

IDXTECHNO

 0.00%

IDXV30

 0.00%

IDXNONCYC

 0.00%

Investor33

 0.00%

IDXSMC-COM

 0.00%

IDXBASIC

 0.00%

IDXESGL

 0.00%

DBX

 0.00%

IDX30

 0.00%

IDXG30

 0.00%

KOMPAS100

 0.00%

PEFINDO25

 0.00%

BISNIS-27

 0.00%

ISSI

 0.00%

MBX

 0.00%

IDXPROPERT

 0.00%

LQ45

 0.00%

IDXBUMN20

 0.00%

IDXHIDIV20

 0.00%

JII

 0.00%

IDX80

 0.00%

JII70

 0.00%

SRI-KEHATI

 0.00%

SMinfra18

 0.00%

Survei OJK Tingkat Literasi Keuangan di Indonesia Masih Rendah, Baru 38 Persen

06/08/2020, 22:09 WIB

Survei OJK Tingkat Literasi Keuangan di Indonesia Masih Rendah, Baru 38 Persen
EmitenNews.com – Ini hasil survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2019. Intinya, tingkat literasi keuangan di Indonesia masih rendah, baru mencapai 38 persen. Kondisi itu berbanding terbalik dengan tingkat inklusi keuangan yang hampir dua kali lipat lebih besar, sudah 76 persen. Dalam sesi webinar, Kamis (6/8/2020), Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Horas Tarihoran, mengungkapkan, dalam rapat terbatas Presiden Joko Widodo meminta agar pada 2023-2024 tingkat inklusinya sudah harus 90 persen. Ini berarti literasinya harus digenjot lagi supaya tidak masalah. Sejauh ini Horas memaklumi jika tingkat literasinya lebih rendah daripada inklusi. Dia mencontohkan, di negara maju Amerika Serikat saja, kompetensi membaca masyarakatnya terhadap sektor keuangan juga masih lebih rendah dari inklusinya. Tetapi, serendah-rendahnya di Negeri Paman Trump itu, tidak serendah di Indonesia. Di AS lebih bagus, karena sejak dini sudah dikenalkan dengan literasi keuangan. Horas melihat, asupan literasi keuangan di Indonesia secara umum masih diberikan sepotong-sepotong dan cenderung tidak mengikuti zaman. Itu tergambar dari pengajaran menghitung pada strata pendidikan sekolah dasar (SD). "Kalau di buku-buku SD kita dulu, kalau belajar penjumlahan di pelajaran matematika, satu tambah satu gambarnya pisang. Di luar negeri tidak, mereka sudah pakai teknologi keuangan." Secara tidak langsung hal tersebut menurut Horas, membiasakan warga Amerika sejak kecil terbiasa dengan mata uang dan sebagainya. Satu dolar ditambah satu dolar sama dengan dua dolar. “Kalau ada uang 10 dolar dibelikan pisang seharga dua dolar kembaliannya berapa. Itu kan matematika sederhana. Kita tidak, makanya kita terlambat." Imbasnya, nilai kompetensi membaca masyarakat Indonesia juga berada di salah satu peringkat paling bawah di dunia. Berdasarkan survei Programme for International Student Assessment (PISA), Indonesia peringkat 72 dari 78 negara dalam hal literasi pada bidang matematika. Jadi kata Horas, itulah jawaban mengapa literasi keuangan kita terlambat, di urutan bawah pula. Posisinya paling bawah dari negara-negara penyelenggara PISA. “PISA itu adalah survey. Jadi, itu adalah assessment untuk seluruh siswa di seluruh dunia dari usia 15-19 tahun. Kita paling bawah." ***  

Author: M. Nasir