EmitenNews.com - Hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan Jeffrey Hendrik sebagai direktur utama periode 2026-2030.

Selain menetapkan nahkoda baru, RUPST BeI juga menetapakan sejumlah agenda lain yaitu Persetujuan atas Laporan Tahunan termasuk Laporan Tugas Pengawasan Dewan Komisaris Perseroan dan Pengesahan Laporan Keuangan Perseroan untuk Tahun Buku 2025;

Penunjukan Akuntan Publik Perseroan untuk Tahun Buku 2026; dan Pengangkatan dan Penetapan Remunerasi bagi Anggota Direksi Perseroan Masa Bakti 2026–2030 serta Pemberian Uang Jasa Pengabdian bagi Anggota Direksi Perseroan yang Berakhir Masa Baktinya.

Dalam kesempatan tersebut, Jeffrey memaparkan bahwa visi BEI adalah menjadi bursa yang kompetitif dengan kredibilitas tingkat dunia. Dengan visi tersebut, misi yang diusung yaitu menciptakan infrastruktur pasar keuangan yang terpercaya dan kredibel untuk mewujudkan pasar yang teratur, wajar dan efisien, serta dapat diakses oleh seluruh pemangku kepentingan melalui produk dan layanan yang inovatif.

"Untuk itu, kami telah menetapkan goal statement, yaitu kami akan membawa Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi bursa kelas dunia untuk manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia," ujar Jeffrey.

Secara garis besar, target BEI di tahun 2030 meliputi empat sasaran strategis, yakni pertumbuhan bisnis transaksi, pengembangan bisnis non-transaksi, peningkatan kualitas dan kuantitas perusahaan tercatat serta peningkatan inklusivitas untuk segmen investor.

Karena itu, selain membidik target kapitalisasi sebesar Rp30 ribu triliun, BEI juga menetapkan empat target lainnya meliputi, rata-rata nilai transaksi harian ditargetkan meningkat menjadi Rp31 triliun per hari, bertambahnya perusahaan tercatat hingga 1.100+, meningkatnya jumlah investor 35 juta investor, dan rasio Market Cap to GDP berada di atas 83 persen.

"Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan tersebut tentu harus didukung oleh infrastruktur perdagangan, infrastruktur pengawasan, dan juga infrastruktur lainnya yang mendukung operasional. Semoga di Bursa Efek Indonesia dapat berjalan dengan baik," pungkas Jeffrey.

Kinerja Keuangan 2025 Positif

Sementara itu, pendapatan konsolidasi meningkat 29,8% menjadi Rp3,66 triliun, dengan faktor utama pendorong peningkatan RNTH menjadi Rp18,07 triliun adalah pertumbuhan Jasa Transaksi Efek sebesar 41% dan Jasa Kliring sebesar 41,3%.