EmitenNews.com - Harga baja di Amerika Serikat (AS) melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir akibat pengetatan kebijakan tarif impor oleh pemerintahan Presiden Donald Trump. Kenaikan harga bahan baku utama industri ini berpotensi memicu rambatan kenaikan biaya produksi bagi sektor manufaktur, konstruksi, dan pengembang teknologi di pasar global, termasuk Indonesia.

Menurut data Bloomberg pada Jumat (16/10/2026), harga baja gulungan panas di AS menyentuh USD1.255 per ton pendek, atau melonjak 52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan ini dipicu kenaikan tarif impor baja menjadi 50 persen, yang membuat impor baja jadi AS turun 14 persen menjadi 13 juta ton dan menekan porsi pasar impor dari 19 persen menjadi 16 persen.

Kepala Riset Baja CRU Group, Josh Spoores, mengungkapkan bahwa pengetatan perdagangan dengan negara mitra memicu kelangkaan pasokan di pasar domestik AS.

"Perubahan kebijakan perdagangan dengan mitra dagang utama seperti Kanada dan Meksiko telah menyebabkan pembeli mengurangi pesanan impor, yang mengakibatkan kekurangan pasokan," kata Josh Spoores.

Kondisi pasokan baja AS diperkirakan semakin ketat hingga akhir tahun seiring jadwal pemeliharaan pabrik yang memangkas produksi hingga lebih dari 1 juta ton. Kenaikan harga ini memperlebar selisih harga baja AS menjadi 1,5 kali lipat lebih mahal dari pasar Eropa dan tiga kali lipat dari Tiongkok.

Meskipun membebankan biaya produksi bagi industri pengguna baja, lonjakan harga ini menguntungkan produsen lokal AS seperti Nucor, Cleveland-Cliffs, dan Steel Dynamics. Saham Nucor tercatat melonjak lebih dari 50 persen sepanjang tahun ini di tengah penurunan persaingan produk impor.