Tengah Gejolak Global, Keamanan Siber Adalah Infrastruktur Strategis
:
0
Slamet Aji Pamungkas - Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN
EmitenNews.com -Ketika ketidakpastian ekonomi global memaksa perusahaan untuk meninjau ulang prioritas belanja teknologi, lanskap ancaman siber di Indonesia justru bergerak ke arah sebaliknya: semakin masif, semakin canggih dan semakin sulit diabaikan. PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) atau ITSEC Asia, perusahaan keamanan siber pertama yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, melihat kondisi ini bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai konfirmasi atas relevansi jangka panjang bisnisnya.
Gesekan ekonomi skala besar dari perang dagang hingga ketidakpastian tarif terbukti secara historis mengakselerasi aktivitas siber berbasis aktor negara. Pola ini sudah teramati sejak konflik dagang AS-Tiongkok tahun 2018, dan kini berulang dalam skala yang lebih luas. Di tengah pembekuan anggaran IT di berbagai belahan dunia, pelaku ancaman tidak ikut terdampak resesi: mereka justru memanfaatkan celah yang terbuka akibat penghematan di sisi pertahanan.
Secara global, anggaran keamanan siber tumbuh hanya 4% rata-rata di 2025 separuh dari pertumbuhan tahun sebelumnya yang mencapai 8% didorong oleh tekanan inflasi dan ketidakpastian kebijakan tarif. Namun di saat yang sama, total pengeluaran keamanan informasi dunia tetap diproyeksikan mencapai USD 213 miliar, menurut Gartner. Paradoks ini mengungkap satu realita penting: pasar tidak menyusut, hanya pemain kurang disiplin yang kehilangan porsi anggarannya.
Tren lain yang signifikan bagi investor adalah pergeseran ke arah 'onshoring' keamanan siber didorong oleh kekhawatiran rantai pasok lintas batas yang diperparah oleh tarif. Penyedia lokal, khususnya di pasar Asia Pasifik, mulai mengambil pangsa pasar dengan menawarkan solusi yang teroptimasi untuk kebutuhan regulasi dan kedaulatan data regional. Dalam konteks Indonesia, ITSEC Asia berada di posisi tunggal sebagai penerima manfaat utama dari tren ini.
Angka-angka Penting:
USD 213 miliar: total belanja keamanan informasi global (Gartner, 2025)
54% organisasi besar menyebut kerentanan rantai pasok sebagai hambatan terbesar ketahanan siber (WEF, 2025)
Pemain lokal Asia Pasifik merebut pangsa pasar seiring meningkatnya preferensi solusi keamanan berkedaulatan lokal
Data terbaru dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat lebih dari 5,16 miliar anomali trafik di Indonesia sepanjang Januari hingga November 2025, setara hampir 182 percobaan serangan setiap detik, angka yang bukan sekadar statistik, melainkan cerminan kondisi pertempuran digital yang sedang berlangsung setiap hari. Indonesia kini menempati peringkat ke-12 di kawasan Asia Pasifik dalam hal tingkat aktivitas siber, dengan sektor keuangan, energi, telekomunikasi, dan pemerintahan menjadi target utama yang bersifat lintas industri.
Slamet Aji Pamungkas, Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN mengatakan, "Ancaman siber saat ini bukan lagi sekadar risiko teknologi, tetapi telah menjadi tantangan strategis yang dapat mempengaruhi keberlangsungan operasional berbagai sektor. Tingginya aktivitas serangan di Indonesia menjadi pengingat bahwa keamanan siber perlu menjadi perhatian di tingkat pimpinan organisasi. Di tengah percepatan transformasi digital dan pemanfaatan kecerdasan buatan di Indonesia, setiap institusi perlu memperkuat ketahanan siber melalui kesiapan yang matang, kolaborasi lintas sektor, serta investasi berkelanjutan pada teknologi, proses, dan sumber daya manusia."
Related News
Jadikan Program MBG Bak Ladang Korupsi, Begini Modus Tiga Tersangka
Buntut OTT di Kantor Imigrasi, KPK Cari Wamen Imipas Silmy Karim
Diperiksa Kejagung Soal Unsur Radioaktif, PMM ke Kantor KSP Bawa Bukti
Dicopot dari BGN, Jadi Tersangka dan Ditahan, Nasib Dadan Hindayana
Tata Portofolio Bisnis, Telkom Group (TLKM) Divestasi AdMedika
Pelaksanaannya Dievaluasi, Tapi Istana Pastikan Program MBG Lanjut





