EmitenNews.com - PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mendukung pemerintah mengusung isu strategis G20 soal transisi energi bersih berkelanjutan. Itu diwujudkan melalui inovasi Sorong Ultimate for Electrifying - Surya Untuk Negeri (SuperSUN) untuk melistriki desa di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). 


Inovasi ciptaan insan PLN itu, merupakan terobosan di tengah kondisi masih ada 346 desa gelap gulita, dan 4.061 desa pra-elektrifikasi. SuperSun menjadi solusi atas tantangan geografis lokasi pedesaan di kawasan 3T yang sulit dilayani. 


Transisi energi butuh keterlibatan seluruh elemen, terlebih lagi generasi muda. ”Dengan semangat G20, kami berharap makin banyak inisiasi pemuda tangguh mendukung transisi energi bersih Indonesia, tidak hanya pada level nasional tapi global,” tutur Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, kala menghadiri Energy Transtions Youth Forum.


Arifin mengapresiasi PLN mendukung generasi muda terlibat aktif dalam pengembangan EBT melalui Inovasi SuperSUN PLN. ”Saya mengapresiasi penuh PLN atas dukungan terhadap anak muda,” puji Arifin. 


SuperSUN merupakan program untuk melistriki wilayah 3T tidak harus bergantung pada BBM. Melalui program SuperSUN, PLN mampu melistriki wilayah 3T dengan EBT lebih murah, dan bisa langsung dipasang tanpa investasi besar. Bermula dari pilot project mewujudkan Papua terang, SuperSUN kemudian mampu mendukung percepatan rasio elektrifikasi (RE), dan rasio desa berlistrik (RDB) 100 persen untuk mewujudkan energi berkeadilan. 


Program itu, bertujuan melistriki daerah 3T dengan penggunaan EBT dari tenaga surya. Terobosan insan PLN di Sorong itu, berawal dari kondisi Kampung Yarweser, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, yang gelap gulita, dan tertinggal. Itu karena tidak ada penerangan pada malam hari. Sebagian rumah memiliki genset pribadi, dan mengeluarkan biaya Rp50-100 ribu. Biaya itu, dikeluarkan untuk penerangan selama 6-12 jam. 


”Karyawan milenial PLN UP3 Sorong, UIW Papua, dan Papua Barat melakukan riset, dan percobaan sehingga menghasilkan suatu inovasi, yaitu melistriki kampung-kampung jauh dari pusat pembangkit atau di daerah 3T,” tutur Executive Vice President Technology & Engineering PLN, Zainal Arifin.


SuperSUN, seperti genset menggunakan bahan bakar energi matahari. Karena itu, tidak ada emisi dari gas hasil pembakaran SuperSun. Alat itu, dapat dioperasikan secara hybrid dari energi terbarukan, menyala 24 jam, dan anti-blackout. Dilengkapi storage baterai lithium, alat itu juga bisa untuk mengisi daya motor listrik, dan memenuhi kebutuhan listrik rumah tangga seperti kompor induksi atau alat elektronik lain. 


Implementasi SuperSUN cukup sederhana, dan sudah tersambung dengan gawai pelanggan sehingga dimonitoring secara online, dan realtime mulai dari jaringan 2G (EDGE). ”SuperSUN juga tidak butuh operator, dan lahan luas. Biaya pengoperasian, dan pemeliharaan juga lebih rendah,” ucapnya.


Tahap implementasi purwarupa, tepatnya pada 9 Maret 2021, hasil uji perangkat prototipe SuperSUN menunjukkan performa sangat baik di Kampung Yarweser, menggunakan kWh meter prabayar daya 900 VA. Kemudian, perangkat itu, digunakan untuk pemasangan 30 calon pelanggan dengan daya terpasang 900 watt sampai 2.000 watt, dan butuh biaya investasi sekitar Rp370 juta. 


Angka itu, lebih rendah dibanding penggunaan tabung listrik, dan stasiun pengisian energi listrik (SPEL), PLTS Komunal, PLTMH, PLTBayu, dan PLTD. ”Implementasi ke depan akan melibatkan mahasiswa, dan anak muda setempat. Itu penting untuk mempelajari pemasangan perangkat micro PLTS, dan micro storage untuk 100 kepala keluarga,” tegasnya. 


Kehadiran SuperSUN terbukti memberi banyak manfaat, dan mendukung program transisi energi yang dijalankan pemerintah untuk mencapai net zero emission pada 2060. PLN bakal menerapkan inovasi SuperSUN di sejumlah wilayah secara masif karena sangat mudah, dan cepat diimplementasikan. (*)