EmitenNews.com - Naiknya harga minyak turut menyengat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah ke level 6.031,28 atau -1,88 persen pada perdagangan Kamis (8/10).

Dalam pandangan teknikal, Equity Research Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis T., menilai bahwa IHSG ditutup di bawah level MA5 dan MA10 dengan volume jual yang meningkat.

Sehingga diperkirakan IHSG kembali akan menguji level kritikal di 6.000. Jika IHSG masih bertahan di atas level 6.000 dan rebound, maka berpotensi membentuk double bottom.

“Namun jika IHSG ditutup di bawah level 6.000, maka diperkirakan IHSG akan menguji level di 5,800-5.900,” katanya.

Begitu pun ungkap Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M Nafan Aji Gusta. Ia juga menilai secara teknikal, pergerakan IHSG membentuk struktur bearish seiring dengan upaya index untuk menguji support terdekat. Namun demikian, Stochastics K_D dan RSI masih menunjukkan sinyal positif, didukung kenaikan volume.

Kata Nafan, para pelaku investor global menyoroti lonjakan harga minyak dan meningkatnya kekhawatiran inflasi, setelah eskalasi konflik di Timur Tengah terkait spekulasi aksi militer AS terhadap Iran kembali menimbulkan risiko terhadap pasokan dan jalur pelayaran minyak.

Brent sempat menembus 3,87 persen di level USD104,08 per barel, sementara harga Crude Oil WTI melonjak 3,29 persen di level USD91,18 per barel.

Bahkan market bahkan meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed menjadi 98,12% pada 9 Desember 2026 mendatang.

“Bagi IHSG, dampak tersebut cenderung bearish to neutral, tetapi berpotensi positif bagi saham energi dan komoditas,” ujar Nafan.

Meski begitu, secar fundamental makro, Nafan menilai bahwa Indonesia masih memliki bantalan yang cukup baik, sehingga koreksi IHSG saat ini lebih mencerminkan menurunnya kepercayaan.