EmitenNews.com - JPMorgan Chase & Co (JPM) merevisi proyeksi penerbitan obligasi sektor teknologi global tahun 2026 menjadi USD540 miliar, naik signifikan dari perkiraan awal sebesar USD450 miliar. Lonjakan utang untuk ekspansi infrastruktur kecerdasan buatan (AI) ini menjadi sinyal kewaspadaan bagi investor pasar modal, termasuk pergerakan saham emiten teknologi domestik di Indonesia.

Maraknya ketergantungan para raksasa teknologi pada pembiayaan berbasis utang mulai menimbulkan kejenuhan di pasar kredit dan memicu lonjakan volatilitas harga saham sektor komputasi.

Mengutip riset JPMorgan yang dipimpin oleh Erica Spear, BigGo Finance menyebutkan bahwa penerbitan utang dari perusahaan hyperscaler diperkirakan menyumbang porsi terbesar hingga USD317 miliar pada 2026. Sementara itu, pembiayaan untuk proyek pusat data diproyeksikan menyumbang USD85 miliar dan berpotensi menembus USD100 miliar.

"Hal ini memperkuat ekspektasi kami bahwa pembiayaan eksternal yang didukung utang akan tetap menjadi ciri khas siklus investasi AI untuk tahun-tahun mendatang," tulis Erica Spear dalam laporan riset tersebut.

Selain perusahaan hyperscaler, emiten seperti Meta Platforms Inc diperkirakan akan kembali menerbitkan obligasi, sedangkan Microsoft Corp dipandang sebagai variabel yang tidak terprediksi karena belum pernah menerbitkan obligasi sejak 2017.

Sektor teknologi secara keseluruhan di luar hyperscaler juga diproyeksikan menerbitkan utang hingga USD146 miliar, melonjak dari proyeksi awal sebesar USD78 miliar akibat penjualan obligasi Nvidia Corp senilai USD25 miliar pada Juni lalu.

Masifnya penawaran utang baru ini mulai menguji ketahanan investor. Obligasi yang diterbitkan oleh SpaceX dan Amazon.com Inc di awal musim panas tercatat mendapat sambutan dingin di pasar sekunder, dengan spread utang beberapa perusahaan meluas hingga 15 basis poin setelah pasar menyerap pasokan utang USD75 miliar pada periode Juni–Juli.

Erica Spear mengingatkan bahwa volatilitas tinggi masih akan membayangi pasar keuangan global. "Kami yakin kita belum melewati hambatan pasokan tahun ini, kemungkinan masih jauh dari itu, dan volatilitas yang berkelanjutan hampir pasti terjadi karena investor menavigasi kalender penerbitan yang tidak transparan," ungkap Spear.

Tingginya beban utang dan ekspektasi pasar yang terlampau tinggi tecermin pada saham Advanced Micro Devices (AMD). Meski membukukan penjualan pusat data kuartal kedua sebesar USD6,7 miliar atau melonjak 107 persen secara tahunan, saham AMD tetap terkoreksi lebih dari 7 persen akibat kekhawatiran investor terhadap penilaian valuasi dan melambatnya laju pertumbuhan jangka pendek.(*)