EmitenNews.com - PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) berupaya memperbaiki kondisi keuangannya melalui rencana konversi utang Rp1,72 triliun menjadi saham. Langkah ini berpotensi memangkas rasio total liabilitas terhadap ekuitas dari 11,78 kali menjadi 1,86 kali.

Melalui penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD), VIVA berencana menerbitkan maksimal 43.087.334.600 saham Seri C untuk melunasi kewajiban kepada dua kreditur terafiliasi, yakni PT Harta Abadi Jaya (HAJ) dan PT Jayakarta Sugih Makmur (JSM).

Dalam keterbukaan informasi, Jumat, 9 Oktober 2026, nilai utang yang akan dikonversi mencapai Rp1.723.493.387.881. Dengan skema ini, utang perseroan berkurang dan ekuitas meningkat. 

Berdasarkan proforma, VIVA menghitung total liabilitas akan terpangkas menjadi Rp4,12 triliun dibanding Rp5,84 triliun dalam laporan keuangan yang tidak diaudit periode 30 Juni 2026.

Setelah penambahan modal saham senilai Rp1,72 triliun, total ekuitas proforma melesat menjadi Rp2,22 triliun dibanding total ekuitas Rp496,10 miliar dalam laporan keuangan per 30 Juni 2026 (tidak diaudit).

Dilusi 72%

Di sisi lain, jumlah saham baru yang diterbitkan berpotensi membuat porsi kepemilikan pemegang saham lama terdilusi. Dengan asumsi harga pelaksanaan Rp40 per saham, saham baru dapat mencapai 72,3529% dari total saham setelah transaksi.

Harga pelaksanaan final akan mengacu pada nilai yang lebih tinggi antara harga nominal Rp40 per saham dan rata-rata harga penutupan saham VIVA selama 25 hari bursa sebelum pengajuan pencatatan saham.

Meski terjadi perubahan komposisi kepemilikan, pengendalian perseroan disebut tetap berada di tangan Bakrie Global Ventura (BGV), yang juga mengendalikan HAJ dan JSM.

Rencana konversi utang ini akan dimintakan persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB pada 17 November 2026. Jika sesuai jadwal, saham hasil konversi akan dicatatkan pada 3 Desember 2026.