EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup menguat 0,29 persen menjadi 5.943. Secara teknikal, indikator Stochastic RSI masih bergerak melemah di area pivot, dan histogram MACD masih berada di teritori negatif. Sehingga diperkirakan IHSG  bergerak sideways pada kisaran 5.800-6.000.

Namun, perlu diwaspadai akan penguatan harga minyak terus berlanjut, dan lompatan ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed. Investor menanti data inflasi PPI Amerika Serikat (AS) diperkirakan sedikit melambat menjadi 5,3 persen YoY September dari edisi Agustus 2026 di level 5,4 persen YoY. 

Selain itu, akan ada rilis data retail sales AS yang diperkirakan melambat menjadi 0,3 persen MoM edisi September 2026 dari periode Agustus 2026 di posisi 1,2 persen MoM. Sementara itu, Inggris akan merilis data PDB Agustus 2026 diperkirakan berkontraksi 0,1 persen MoM dari Juli 2026 dengan pertumbuhan 0,4 persen MoM.

Sementara itu, Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) memproyeksi kapasitas produksi bahan baku baterai meningkat hingga dua kali lipat melampaui 900 ribu ton pada akhir 2027. Itu dampak dari hasil hilirisasi nikel dalam negeri berupa Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).

Proyeksi peningkatan kapasitas produksi itu, didorong masuknya proyek-proyek fasilitas pemrosesan, dan pemurnian hidrometalurgi berbasis High Pressure Acid Leaching (HPAL) ke tahap operasi penuh. Itu akan menguntungkan industri baterai, dan kendaraan listrik. Pasalnya, akan mendapat pasokan lebih besar, dan biaya bahan baku kompetitif.

Berdasar data dan fakta itu, Phintraco Sekuritas menyarankan para pelaku pasar untuk mengoleksi sejumlah saham unggulan berikut. Yaitu, Barito Pacific (BRPT), Pantai Indah Kapuk II (PANI), United Tractors (UNTR), Indosat Ooredoo (ISAT), Bank Danamon (BDMN), dan Mitra Adiperkasa (MAPI). (*)