EmitenNews.com - Lonjakan imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS tenor 10 tahun ke level tertinggi sejak 2007 menekan harga emas dunia hingga menyentuh level terendah dalam hampir enam minggu pada perdagangan Rabu. Pelemahan ini terjadi seiring sikap hati-hati pelaku pasar menanti keputusan kebijakan moneter dari Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan data Trading Economics, harga emas bertahan di bawah USD4300 per ons. Pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin untuk pertama kalinya dalam sekitar tiga tahun terakhir guna meredam inflasi.

Para pedagang juga mencermati panduan The Fed mengenai potensi kenaikan suku bunga acuan tambahan di akhir tahun ini, dengan ekspektasi pada Oktober atau Desember mendatang. Selain The Fed, Bank of Japan diperkirakan menaikkan biaya pinjaman minggu ini, sementara Bank of England diproyeksikan mempertahankan kebijakannya.

Tekanan terhadap emas sebagai komoditas tanpa imbal hasil (non-yielding asset) diperparah oleh melonjaknya biaya energi akibat gangguan pasokan minyak di Timur Tengah. Lonjakan harga energi tersebut semakin memicu kekhawatiran kenaikan inflasi global.

Penurunan harga emas global ini memicu penyesuaian harga emas batangan di dalam negeri, termasuk emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Kenaikan yield obligasi AS dan pengetatan suku bunga The Fed juga berisiko memicu aliran modal keluar, menekan nilai tukar Rupiah terhadap USD, serta mendorong penguatan yield Surat Berharga Negara (SBN).(*)