9 Tahun 1.500 Gerai, Kopi Kenangan Pilih Debut di Bursa Singapura?
:
0
9 Tahun 1.500 Gerai, Kopi Kenangan Pilih Debut di Bursa Singapura? Foto Gerai Pertama: Google/Mercyleon
EmitenNews.com - Di industri ritel makanan dan minuman, menjembatani celah antara produk gaya hidup premium dan komoditas murah sering kali berujung pada tergerusnya marjin secara perlahan. Namun, eksperimen bisnis Kopi Kenangan pada 2017 silam di kawasan Kuningan, Jakarta, membuktikan premis sebaliknya. Mereka tidak sekadar meracik es kopi susu untuk para kelas pekerja, melainkan merekayasa ulang unit ekonomi industri kedai kopi dari nol melalui efisiensi ruang dan integrasi teknologi.
Kini, dengan infrastruktur melampaui sekitar 1.500 gerai lintas negara dan sokongan modal ventura raksasa global, mantan kedai kecil berstatus unicorn ini sedang memetakan jalan menuju pencatatan saham perdana (IPO) bernilai belasan triliun rupiah. Bagi pasar, isu utamanya bukan lagi seberapa agresif mereka bisa memotong pita peresmian toko baru, melainkan seberapa solid fundamental profitabilitas mereka mampu menopang ekspektasi tinggi para investor institusional.
Berawal dari Logika Sederhana untuk Menjawab Kegalauan Ngopi
Kisah ini dimulai pada tahun 2017 ketika Edward Tirtanata, James Prananto, dan Cynthia Chaerunnisa membedah struktur industri kopi lokal dengan logika yang sangat mendasar. Saat itu, pasar terbelah dua secara ekstrem: kopi jaringan multinasional yang menguras kantong dan kopi saset di warung pinggir jalan.
Berbekal modal awal sekitar Rp150 juta, mereka membuka gerai pertama di Kuningan, Jakarta, dengan satu keputusan radikal: memangkas habis biaya sewa tempat luas untuk nongkrong.
Penghematan dari beban ruang ini langsung dialihkan untuk membeli mesin espreso kelas komersial dan biji kopi lokal berkualitas. Lewat konsep beli-langsung-pergi (grab-and-go), mereka berhasil merekayasa ulang keekonomian unit (unit economics) bisnis kedai kopi. Secara manajemen bisnis, strategi ini membuat harga segelas es kopi susu menjadi sangat rasional bagi dompet pekerja kantoran.
Anatomi Pendanaan: Dari Modal Pembuktian ke Injeksi Raksasa Global
Transformasi Kopi Kenangan dari sekadar kedai kopi di Menara Standard Chartered, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, menjadi entitas raksasa tidak lepas dari manuver mereka di pasar modal privat. Hingga kini, ada 21 institusi keuangan yang masuk ke dalam struktur permodalan perusahaan, di mana 19 di antaranya adalah entitas investasi global.
Perjalanan ini dimulai pada akhir 2018 lewat pendanaan tahap awal (Seed funding) dari Alpha JWC Ventures. Dalam bahasa bisnis, pendanaan benih ini ibarat modal nekat yang diberikan untuk membuktikan apakah hipotesis bisnis jualan kopi pakai aplikasi ini benar-benar bisa diterima pasar atau sekadar tren sesaat.
Setelah konsepnya terbukti sukses, mesin pertumbuhan langsung dipacu lewat pendanaan Seri A pada 2019 dan Seri B pada 2020 dengan total nilai melampaui 129 juta dolar Amerika Serikat. Fase ini dikomandoi oleh firma modal ventura raksasa Sequoia Capital (kini Peak XV Partners), B Capital, hingga institusi asal Belgia, Sofina, yang belakangan tercatat menggenggam porsi kepemilikan 1,54 persen.
Related News
Sentimen Positif CPO, Efisiensi Operasional Jadi Kartu As Saham AALI?
Prapenjualan Residensial Melandai, Pendapatan Berulang BSDE Tumbuh 19%
MRT Bakal Tembus BSD, Kartu Cuan Sakti Raksasa Properti Grup Sinar Mas
Bursa Era 1 Perak: GOTO Runtuh, Gocapers Pesta Pora Rajai Transaksi
Indonesia Tak Turun Kasta, PR Menanti Saat Vietnam Naik Kelas di FTSE
16 Saham Siap Bagi Dividen, Intip Siapa yang Kasih Yield Paling Jumbo!





