EmitenNews.com - Pengusaha Hashim Djojohadikusumo resmi menggarap pengembangan proyek Gas Natuna D-Alpha. Proyek itu masuk dalam lelang blok migas tahun 2026, yang pemenangnya diumumkan pada Kamis malam (17/9/2026). Dalam pengumuman melalui website resmi Kementerian ESDM itu, tertulis PT Nations Petroleum menjadi pemenang lelang blok Natuna D-Alpha.

Informasi yang diperoleh Sabtu (19/9/2026) menyebutkan, Nation Petroleum salah satu anak usaha dari Arsari Group, perusahaan yang terafiliasi langsung dengan Hashim Djojohadikusumo, adik presiden Prabowo Subianto. 

Dalam website resmi Arsari Group terdapat informasi yang menyatakan bahwa “Minyak bumi tetap menjadi sumber daya penting dalam mendorong pertumbuhan Indonesia. Nations Petroleum berinvestasi pada teknologi ekstraksi dan pemulihan terbaru untuk memaksimalkan efisiensi, mengoptimalkan sumber daya, dan berkontribusi terhadap masa depan energi yang lebih aman dan berkelanjutan.

Dari pengumuman itu diketahui, Nations Petroleum menjadi pemenang lelang dengan total nilai bonus tanda tangan USD200 ribu dan nilai komitmen pasti mencapai USD103.309.000. Komitmen pasti tersebut diperuntukkan untuk berbagai macam kegiatan.

Di antaranya, 3 Paket G&G Study, Akuisisi dan Processing Data Seismik 3D seluas 591 km2, 1 Pilot Unit Design and Engineering, 3 Paket CO2 Integrated Study, 1 Manufacturing. Kemudian, Procurement and Construction, 2 Paket EPC Design Cost, 1 Sumur Appraisal, 1 Sumur Eksplorasi, 1 Paket Operation, dan Multi-Mode Testing and Monitoring.

Menarik menelaah masuknya Nations Petroleum untuk mengelola Natuna D-Alpha. Harapannya, entitas usaha dalam negeri itu, dapat memonetisasi potensi besar gas Natuna. Bukan apa-apa. Selama puluhan tahun pemerintah mencari pihak yang bersedia mengelola blok yang kaya akan gas ini, namun sekian lama waktu berlalu,tidak kunjung menemukan operator yang pas.

Bahkan perusahaan sekelas ExxonMobil dari Amerika Serikat, yang kesohor itu, memilih mengembalikan hak pengelolaannya kepada pemerintah. Perusahaan kelas dunia itu, mengklaim tingkat kesulitan mengembangkan potensi gas yang sangat tinggi karena laut dalam dan kadar CO2 di gas yang mencapai lebih dari 70%.

Di luar itu, besarnya potensi gas Natuna D-Alpha berhadapan dengan tantangan pengembangan yang tidak kalah besar. Kandungan karbon dioksida (CO2) di lapangan tersebut mencapai sekitar 70%-72%, sehingga membutuhkan teknologi pengolahan dan penanganan CO2 dengan biaya yang kompetitif.

Sejarah Pengembangan Natuna Bermula Saat AGIP Temukan Gas

Data yang ada mencatat, sejarah pengembangan Natuna D-Alpha bermula pada 1973 ketika operator AGIP (General Italian Oil Company) menemukan gas di Lapangan AL yang kemudian dikenal sebagai Natuna D-Alpha. Potensi hidrokarbon di wilayah tersebut diperkirakan lebih dari 200 trillion cubic feet (TCF).