Ada Pengendali Baru, Transformasi Era Media (DOOH) Bangun Ekosistem AI
:
0
Ilustrasi PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH), atau SSPACE. Dok. InvestorDaily.
EmitenNews.com - PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) kini mengarahkan bisnisnya untuk berkembang menjadi holding company yang membangun ekosistem infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di Indonesia. Itulah transformasi besar yang disiapkan SSPACE setelah PT Sinergi Internasional Investama (SII) masuk sebagai pengendali perseroan.
Dalam Public Expose Insidentil di Jakarta, Jumat (4/9/2026), manajemen DOOH menyebut masuknya SII sebagai titik perubahan bagi emiten layanan periklanan, dan konsultasi manajemen itu. Perubahan itu membuka peluang memanfaatkan sinergi dengan ekosistem Grup SII sekaligus memperluas bisnis ke sektor infrastruktur AI.
Harus diakui, transformasi ini menjadi kelanjutan dari perjalanan DOOH selama lima tahun terakhir. Perseroan yang sebelumnya berfokus sebagai agensi media luar ruang telah berkembang menjadi media owner berskala nasional dan kemudian mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode DOOH.
DOOH kemudian memperluas portofolio bisnisnya. Mulai dari Free WiFi Ads, media Pasar Jaya, iklan kereta api, roadside media, hingga media pada gerbong KRL. Perseroan juga mengembangkan jaringan billboard nasional, grocery stores, branding bus, serta bisnis kreatif melalui segmen event dan exhibition.
Manajemen DOOH Membawa Visi Menjadi Ekosistem AI Terlengkap di Indonesia
Dengan adanya pengendali baru, Manajemen DOOH membawa visi menjadi salah satu ekosistem AI terlengkap di Indonesia. Untuk mendukung visi tersebut, perseroan menyiapkan lima pilar bisnis yang saling terintegrasi. Yakni AI data center, internet berkecepatan tinggi, fiber optik, kabel bawah laut (submarine cable), serta energi hijau melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Kelima sektor tersebut memiliki keterkaitan dalam membangun ekosistem AI. Infrastruktur konektivitas dan energi menjadi fondasi bagi kapasitas komputasi, sementara kebutuhan data center diperkirakan terus meningkat seiring pertumbuhan penggunaan AI dan layanan cloud.
Untuk sektor data center, DOOH memperkirakan kapasitas pusat data Indonesia berpotensi meningkat sekitar 2,5 kali dalam lima tahun ke depan. Pasar data center nasional diproyeksikan mencatat compound annual growth rate (CAGR) sekitar 19,9% pada 2025–2030, dengan nilai pasar meningkat dari USD1,83 miliar menjadi USD3,48 miliar.
Peluang tersebut turut didukung biaya pembangunan data center di Indonesia yang berada di kisaran USD8 juta–USD9 juta per megawatt. Angka tersebut dinilai lebih kompetitif dibandingkan Singapura dan Malaysia.
Sekitar 57% kapasitas data center nasional saat ini masih terkonsentrasi di Jakarta. Kondisi ini membuka peluang diversifikasi ke wilayah lain, terutama daerah yang memiliki jaringan fiber optik dan titik pendaratan kabel laut.
Related News
Berencana Buyback Saham, Bank BTPN Syariah (BTPS) Siapkan Rp1T
Hidupkan Lagi Semen Kujang, SIG Bidik Penguasaan Pasar Jawa Barat
Samudera Indonesia (SMDR) Masih Simpan Dana Sukuk Ijarah, Ada Apakah?
EDGE Crossing Saham di Pasar Negosiasi, Lanjutkan Proses Go Private
CBRE Bantah Dugaan Wanprestasi Navios
Tambah Porsi, Putra Om William Kini Kuasai 35 Persen Saham Saratoga





