Apakah Stabilitas IHSG Hanyalah Fatamorgana di Balik Dominasi DSSA?
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Dok. InvestorID
Secara fundamental, per penutupan 27 Januari 2026, DSSA diperdagangkan pada level Rp116.000 per lembar saham dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp894 triliun. Jika menarik nilai intrinsik menggunakan rata-rata pasar sebagai tolak ukur (PER 16,81x dan PBV 2,56x), angka tersebut menunjukkan overvaluation yang sangat tajam. Dengan laba bersih sembilan bulan sebesar USD 177,24 juta yang disetahunkan menjadi sekitar Rp3,97 triliun, DSSA mencatatkan Laba Bersih per Saham (EPS) sebesar Rp515,27, yang menghasilkan nilai intrinsik berbasis laba hanya sebesar Rp8.662.
Dari sisi aset, dengan nilai buku per saham (BVPS) sebesar Rp3.867,37, harga wajar berdasarkan PBV pasar hanyalah Rp9.900. Rata-rata nilai intrinsik sebesar Rp9.281 ini menciptakan celah premium hingga 1.150% dibandingkan harga pasar. Premium ini merefleksikan ekspektasi pasar terhadap peran strategis DSSA sebagai "pemegang kunci" merger telekomunikasi nasional dan pengelola likuiditas melimpah sebesar USD 883 juta.
Kesimpulan Due Diligence
Keputusan untuk melakukan uji tuntas atau Due Diligence bagi investor pada saham DSSA harus mencakup pemahaman mendalam mengenai kompleksitas transaksi antar-perusahaan dalam jaringan konglomerasi yang sering kali berada di area abu-abu pelaporan keuangan.
Secara fundamental, DSSA merupakan instrumen investasi yang menjanjikan eksposur pada ekonomi baru melalui sektor digital dan energi bersih, namun risiko transparansi pada klasifikasi piutang serta beban utang yang mencapai sembilan puluh persen dari total ekuitas menjadi faktor risiko krusial yang harus dimitigasi oleh investor.
Investor disarankan untuk memantau realisasi sinergi telekomunikasi dan ketepatan waktu proyek panas bumi sebagai indikator utama apakah "jangkar" bursa ini akan tetap kokoh atau justru menyimpan risiko solvabilitas di masa depan.
Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya milik Anda, riset ini adalah instrumen edukasi, bukan instruksi transaksi.
Related News
Ketika Valuasi PTRO Terbentur Tekanan Likuiditas dan Lonjakan Biaya
Paradoks Valuasi RMKO yang Melambung di Tengah Tekanan Likuiditas
Emas ATH Gelembung Spekulasi atau Bukti Runtuhnya Sistem Moneter Fiat?
Mengapa Pendapatan MDKA Turun Tapi Laba Melompat dan Saham Meroket?
Apakah INET Adalah Jawaban Atas Dahaga Infrastruktur Digital Bangsa?
Mampukah Rekor IHSG 9.174 Bertahan dari Tekanan Gravitasi Rupiah?





