ASII Gelontor Rp36 Triliun, Bidik Sektor Strategis
:
0
Presiden Direktur Astra Rudy (tengah), Direktur Astra Gidion Hasan (empat kanan), Direktur Astra Santosa (tiga kanan), Direktur Astra Gita Tiffani Boer (empat kiri), Direktur Astra FXL Kesuma (tiga kiri), Direktur Astra Thomas Junaidi Alim. W (dua kanan), Direktur Astra Hsu Hai Yeh (dua kiri), Direktur Astra Siswadi (kanan), dan Direktur Astra Djap Tet Fa (kiri), usai Press Conference Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Astra International 2026 di Jakarta, Kamis, 23 April 2026. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Astra International (ASII) sepanjang 2026 bakal menggelontorkan anggaran Rp36 triliun. Melejit sekitar 10 persen dari episode sama tahun lalu senilai Rp32 triliun. Penggunaan, dan pengeloaan belanja modal alias capital expenditure (Capex) itu akan dilakukan dengan disiplin tinggi.
Disiplin tinggi pengelolaan dan penggunaan belanja untuk menghadapi kondisi ekonomi dinamis. ”Strategi operational excellence menjadi kunci perusahaan untuk mencapai hasil kinerja lebih stabil. Tiap pilar bisnis memiliki cara beradaptasi masing-masing sesuai tantangan yang dihadapi,” tegas Rudy, Presiden Direktur Astra International.
Rudy tidak menyangkal penghentian sementara operasional tambang emas pada anak usaha, United Tractors (UNTR) turut memengaruhi profitabilitas grup bidang pertambangan. Namun, pilar jasa keuangan tampil sebagai penyelamat dengan pertumbuhan tetap positif.
Menurut Rudy, diversifikasi portofolio pada pilar jasa keuangan sangat membantu kinerja grup saat pasar otomotif menurun. Perseroan mencatat pertumbuhan positif pada sektor ini selama tiga bulan pertama tahun 2026. ”Mayoritas belanja dialokasikan untuk maintenance Capex,” tegas Hsu Hai Yeh, CFO Astra International.
Selain itu, perusahaan tetap melirik peluang investasi pada sektor-sektor strategis. Itu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi, dan operasional lapangan. Soal kinerja, Astra menghadapi tantangan cukup dinamis pada kuartal I 2026. Sektor otomotif dan pertambangan menjadi dua lini bisnis mengalami tekanan. Pasar otomotif dalam dua tahun terakhir hingga awal tahun ini cenderung stagnan atau flat dengan persaingan sangat ketat. (*)
Related News
Saiko Caplok 1,05 Miliar Lembar, Saham NAYZ Menari Lincah
BNLI Tabulasi Laba Rp920 Miliar, Melonjak 17 Persen Kuartal I
NAIK Tebar Dividen 32,5 Persen Laba, Ikuti Jadwalnya
Laba CFIN Melonjak 69 Persen, Pendapatan Melambat
DKFT Distribusikan Dividen Rp390 Miliar, Cum Date 4 Mei
DCII Kemas Laba Rp377,75 Miliar, Melorot 10 Persen Kuartal I





