EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melonjak 0,84 persen menjadi 8.933. Lompatan mayoritas harga komoditas logam, dan ada beberapa insentif dari pemerintah menjadi faktor positif pada pergerakan indeks. 

Namun Rupiah berlanjut ditutup melemah di pasar spot pada level Rp16.740 per dolar Amerika Serikat (USD). Secara teknikal, histogram positif MACD berlanjut menguat seiring dengan kenaikan volume beli. Stochastic RSI juga berlanjut menguat menuju area overbought. So, indeks berpotensi melanjutkan apresiasi.

Sepanjang perdagangan hari ini, Rabu, 7 Januari 2026, indeks diperkirakan berpeluang menguji level psikologis 9.000, dengan posisi support 8.800. Namun, indeks rentan minor pullback dalam jangka pendek karena profit taking. Pemerintah kembali memberi sejumlah insentif untuk mendorong daya beli masyarakat.

Tindakan itu, diharap dapat memicu akselerasi pertumbuhan ekonomi. Insentif itu berupa pembebasan PPh 21 selama tahun 2026 untuk karyawan dengan gaji di bawah Rp10 juta per bulan bergerak sektor industri alas kaki, tekstil dan pakaian jadi, furnitur, industri kulit dan turunannya, serta pariwisata. 

Pemerintah juga menetapkan PPN ditanggung pemerintah sebesar 100 persen untuk harga jual rumah sampai dengan Rp2 miliar untuk rumah tapak dan Rp5 miliar untuk rumah susun selama tahun 2026. Pemerintah juga sedang mengkaji aturan insentif untuk industri otomotif.

Selain mencermati perkembangan geopolitik global, investor menanti sejumlah data ekonomi dari Eropa, dan AS. Jerman akan merilis retail sales dan pasar tenaga kerja, dan Euro Area akan rilis data inflasi. Investor akan mencermati indeks ISM Services dan JOLTS Job Openings dari AS.

Berdasar data dan fakta tersebut, Phintraco Sekuritas menyarankan para pelaku pasar untuk mengoleksi sejumlah saham andalan berikut sebagai jujukan investasi. Yaitu, Bank BRI (BBRI), Elang Mahkota (EMTK), Saratoga Investama (SRTG), Bank BTN (BBTN), dan Indika Energy (INDY). (*)