Awas Profit Taking, Jala Saham BBCA, ASII, TLKM, dan BMRI
Suasana penutupan perdagangan IHSG edisi 2025 di Main Hall Bursa Efek Indonesia. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,76 persen menjadi 7.710. Sesuai prediksi, indeks berhasil rebound, didorong sentimen positif penguatan indeks bursa global, dan aksi bargain hunting meski juga terjadi profit taking pada beberapa saham telah mengalami rally seperti sektor migas.
Mayoritas indeks bursa Asia juga mengalami rebound. Namun rupiah berlanjut ditutup melemah menjadi Rp16.905 per dolar Amerika Serikat (USD), seiring koreksi mayoritas mata uang Asia. Sektor cyclical membukukan kenaikan terbesar, dan saham sektor transportasi mencatatkan koreksi terbesar.
Secara teknikal, indikator Stochastic RSI berada di area oversold, dan berpotensi mengalami reversal. Namun, MACD masih membentuk pelebaran histogram negatif. Sehingga indeks diperkirakan sideways cenderung melemah. Sepanjang perdagangan Jumat, 6 Maret 2026, indeks akan menyusuri level 7.550-7.800.
Investor akan menanti data cadangan devisa Indonesia edisi Februari 2026, berpotensi kembali mengalami penurunan di tengah berlanjutnya depresiasi nilai tukar Rupiah. AS akan merilis sejumlah data ekonomi penting, yaitu nonfarm payrolls, dan unemployment rate Februari 2026, dan retail sales Januari 2026.
Menurut konsensus, data nonfarm payrolls Februari 2026 diperkirakan melambat menjadi 59 ribu dari Januari 2026 di level 130 ribu. Sedang tingkat pengangguran diperkirakan stabil di level 4,3 persen. Berdasar data itu, Phintraco Sekuritas menjagokan saham TLKM, BBCA, BMRI, ESSA, dan ASII sebagai bahan koleksi. (*)
Related News
Terjebak Koreksi, IHSG Susuri Level 7.391
IHSG Menguat 1,76 Persen, Sektor Konsumen Non Primer Pimpin Reli
IHSG Bersemi 1,67 Persen ke 7.704 di Sesi I, Dipikul Sektor Siklikal
RI Harus Ubah Status Flu Burung Agar Pasar Saudi Tak Lepas
Daya Tampung BBM Terbatas, Presiden Minta Bangun Storage Baru
Jenuh Jual, IHSG Potensial Rebound





