EmitenNews.com - Pasar surat utang pada 2025 dinilai cukup volatil. Salah satu faktornya adalah sentimen higher for longer alias bunga acuan The Fed yang bertahan cukup tinggi.

Namun perlahan, The Fed akhirnya memangkas bunga pada akhir 2024 menjadi 4,25%-4,5% dan berlanjut pada akhir 2025 menjadi 3,5%-3,75%.

Kondisi tersebut tentu saja berpengaruh pada aktivitas transaksi asing di surat berharga negara (SBN). Dalam Tinjauan Pasar Surat Utang Indonesia Tahun 2025 yang dirilis Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), Jumat (2/1) menyebutkan, investor asing di pasar SBN domestik pada akhir tahun 2025 kembali melakukan net inflow meskipun dengan besaran yang lebih rendah dari tahun 2024.

Total inflow di tahun 2025 sebesar sebesar Rp1,81 triliun dengan total outstanding sebesar Rp879,33 triliun. Sedangkan, pada tahun 2024 Investor Asing mencatatkan inflow sebesar Rp34,59 triliun.

Sementara itu, permintaan domestik menjadi penopang utama pasar SBN sepanjang 2025. Institusi Bank menjadi pembeli utama SBN pada tahun 2025, selain itu institusi non-bank seperti dana pensiun dan asuransi memiliki kebutuhan reinvestasi yang besar sehingga secara efektif menyerap sebagian besar penerbitan SBN.

Net transaksi beli SBN terbesar dicatatkan oleh Institusi Perbankan Lokal hingga mencapai Rp297,39 triliun di sepanjang tahun 2025. Itu membuat proporsi kepemilikan Perbankan Lokal di SBN pada akhir tahun 2025 terpantau meningkat yakni menjadi sebesar 20,62% dari total outstanding SBN tradable dari sebelumnya sebesar 18,52% pada akhir tahun 2024.

Di sisi lain, institusi asuransi & dana pensiun yang secara gabungan juga mencatatkan net transaksi beli mencapai Rp145,43 triliun, sementara investor individu atau ritel mencatatkan net sell SBN sebesar Rp4,99 triliun. (*)