EmitenNews.com - Hingga akhir 2025, ada 181 saham yang masuk efek pada papan pemantauan khusus Bursa Efek Indonesia (BEI). Dari jumlah itu, beberapa saham merupakan penghuni lama dengan kurun waktu 3-4 tahun.

Lebih detail, dua di antaranya menjadi saham dengan waktu terlama berada di papan pemantauan khusus BEI. Saham-saham yang dimaksud adalah PT Onix Capital Tbk (OCAP) dan PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI).

Berdasarkan data BEI hingga 30 Desember 2025, saham OCAP sudah masuk papan pemantauan khusus sejak 19 Juli 2021. Sementara GMFI masuk sejak 29 Juli 2021.

Lantas, apa yang melatarbelakangi dua saham itu jadi penghuni terlama?

Onix Capital (OCAP)

Dalam catatan BEI, saham OCAP masuk papan pemantauan khusus atas empat catatan. Di antaranya, laporan Keuangan Auditan terakhir mendapatkan opini tidak menyatakan pendapat (disclaimer).

Kemudian, tidak membukukan pendapatan atau tidak terdapat perubahan pendapatan pada Laporan Keuangan Auditan dan/atau Laporan Keuangan Interim terakhir dibandingkan dengan laporan keuangan yang disampaikan sebelumnya; memiliki ekuitas negatif pada laporan Keuangan terakhir.

Serta memiliki likuiditas rendah dengan kriteria nilai transaksi rata-rata harian saham kurang dari Rp5 juta dan volume transaksi rata-rata harian saham kurang dari 10.000 saham selama 3 bulan terakhir di Pasar Reguler dan/atau Pasar Reguler Periodic Call Auction.

Kondisi-kondisi itu masih dialami Onix Capital hingga akhir 2025. Bahkan, Onix Capital sudah terbilang pasrah atas statusnya di BEI tersebut.

Pasalnya, melalui public expose pada awal Desember lalu, Direktur Onix Capital Mauritius Ray menyebutkan, saat itu pihaknya tidak punya rencana kerja. "Fokus Perseroan hanya pada pemberesan likuidasi anak usaha dan perubahan status Perseroan dari perusahaan terbuka menjadi perusahaan tertutup," kata Mauritius.

Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMFI)

Berbeda dengan Onix, GMF masih berupaya untuk memperbaiki kinerjanya karena status sebagai penghuni terlama papan pemantauan khusus BEI hanya soal ekuitas yang negatif. Oleh karena itu, anak usaha Garuda Indonesia tersebut tengah memproses penerbitan rights issue.

Dalam prospektusnya, GMF akan menerbitkan 90,05 miliar saham baru dengan nominal Rp25 dan harga pelaksanaan Rp69. Atas rencana itu, GMF diperkirakan bisa meraup dana segar Rp6,2 triliun.

Mengenai pelaksanaan rights issue tersebut, GMF telah mendapat efektif pada 11 Desember 2025, dengan tanggal cum dan ex di pasar regular, negosiasi, dan tunai mulai 19-24 Desember 2025. Kemudian, rights issue tersebut akan tercatat di BEI pada 29 Desember 2025 dengan masa perdagangan dan pelaksanaan HMETD pada 29 Desember 2025 hingga 9 Januari 2026.

Sebagai informasi, ekuitas GMF per 30 September 2025 tercatat minus US$249,16 juta dengan jumlah defisiensi modal US$248,99 juta. (*)