Benarkah Analisis Fundamental Sudah Mati?
:
0
ilustrasi bullish vs bearish. Dok/EmitenNews
EmitenNews.com -Dalam beberapa tahun terakhir, Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan fenomena yang mengundang tanda tanya besar di kalangan investor. Saham-saham bluechip yang umumnya memiliki fundamental kuat, dianggap sebagai pilihan investasi jangka panjang mengalami penurunan yang signifikan. Sebaliknya, saham-saham gorengan yang memiliki fundamental lemah justru menunjukkan peningkatan harga yang tajam.
Fenomena ini memicu perdebatan mengenai relevansi analisis fundamental dalam menentukan keputusan investasi. Apakah benar analisis fundamental sudah mati? Atau ini hanya fase sementara dalam dinamika pasar saham?
Analisis fundamental merupakan metode evaluasi yang dilakukan dengan memeriksa kesehatan keuangan perusahaan, laporan keuangan, manajemen, serta kondisi ekonomi makro yang mempengaruhi bisnis tersebut. Analisis fundamental juga menggunakan metode valuasi relatif seperti Price to Earnings Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV) untuk menilai apakah harga saham sudah mencerminkan kondisi keuangan perusahaan. Analisis ini juga membandingkan kinerja historis dan sektoral untuk mengidentifikasi potensi pertumbuhan. Hal lain yang menjadi penilaian analisis fundamental adalah pertumbuhan pendapatan, profitabilitas, arus kas, dan posisi utang perusahaan.
Tentunya dari penjelasan di atas, analisis fundamental sangat penting bagi seorang investor saham. Mengabaikan analisis fundamental sama halnya dengan menganggap saham sebagai barang kosong tanpa underlying asset. Bisa dibayangkan sebuah perusahaan yang hanya memiliki laba Rp 5 miliar tetapi memiliki kapitalisasi pasar Rp 50 Triliun. Jika investor terus membeli saham tersebut hanya karena harganya terus naik, maka nilai pasar saham tersebut menjadi tidak realistis dan rentan terhadap koreksi tajam.
Menjadi pertanyaan berikutnya, kenapa saham dengan fundamental kuat malah mengalami penurunan harga?
Saham yang memiliki fundamental kuat tidak selalu langsung naik secara otomatis karena harga saham di pasar modal dipengaruhi oleh berbagai faktor selain fundamental perusahaan. Seperti kita ketahui, harga saham ditentukan oleh permintaan dan penawaran di pasar saham. Jika minat beli rendah meskipun fundamental perusahaan baik, harga saham bisa tetap stagnan atau bahkan turun.
Faktor sentimen pasar seperti kondisi ekonomi, politik, dan global juga mempengaruhi naik turunnya harga saham. Tentunya ketidakpastian seperti inflasi, suku bunga, atau ketegangan geopolitik sering membuat investor bersikap hati-hati dalam membeli sebuah saham.
Pasar saham bisa juga dipengaruhi oleh aksi spekulasi, rumor, atau bahkan manipulasi harga oleh investor besar. Itulah sebabnya pergerakan saham dengan fundamental kuat lebih lambat bergeraknya dibandingkan saham yang mudah digerakkan oleh sentimen pasar seperti saham gorengan.
Selain itu, terkadang butuh waktu bagi investor untuk mengenali dan memperhitungkan nilai intrinsik suatu perusahaan yang memiliki fundamental kuat. Investor mungkin menunggu katalis tertentu sebelum membeli saham tersebut, seperti laporan laba, dividen, atau pengumuman kerja sama strategis. Mungkin ini juga sebabnya banyak investor ritel melirik saham yang menjanjikan ‘keuntungan cepat’, sehingga saham dengan fundamental kuat tidak menarik perhatian dalam jangka pendek.
Saham gorengan—saham dengan fundamental yang lemah seringkali menawarkan keuntungan ratusan persen dalam waktu singkat dikarenakan mudah untuk dimanipulasi harganya. Lonjakan ini dipengaruhi berbagai faktor, seperti: spekulasi dan Fear of Missing Out (FOMO), manipulasi pasar oleh bandar, maupun dikarenakan penyebaran rumor di media sosial dan komunitas online yang menyesatkan.
Related News
NPL BPR Sangat Tinggi, Tetapi Mengapa Seolah Dibiarkan?
Tembok Utang dan Pertaruhan Keberlanjutan Fiskal
Jelang Evaluasi MSCI: Antara Lega dan Waspada di Pasar Modal
Saham Bank Turun Terus, Ini Bukan Soal Dividen, Ini Soal Kepercayaan
Akar Masalah Joki Coretax
Sanksi Massal BEI: Penegakan Disiplin atau Compliance Semu?





