EmitenNews.com - Konektivitas telah menjadi kebutuhan utama masyarakat Indonesia saat ini selain sandang, pangan, dan papan. Berdasarkan survei dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet meningkat dari 55% dari populasi pada tahun 2019 menjadi 73,7 % pada tahun 2020, dan masih akan terus meningkat seiring dengan masa pemulihan pandemi yang masih berlangsung. Seluruh penyedia layanan komunikasi data, khususnya penyedia layanan internet pun berlomba untuk menghadirkan koneksi internet yang dapat lebih diandalkan. Pembangunan jaringan serat optik sebagai backbone komunikasi data menjadi kebutuhan yang tidak terelakkan dalam menghadirkan layanan terbaik dalam konektivitas.
Perkiraan terbaru dari Bank Dunia menyebutkan perkiraan total jumlah pelanggan fixed broadband di Indonesia sekitar 9,7 juta, yakni baru sebesar 4% dari populasi atau 16% rumah tangga. Indonesia masih tertinggal dengan beberapa negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan Vietnam pada tingkat penetrasi fixed broadband maupun mobile broadband berkecepatan tinggi(4G/LTE). Selain itu, berdasarkan data Kementerian Kominfo baru 36.03% desa dan 63,02% kecamatan dari seluruh Indonesia yang telah terlewati jaringan kabel serat optik.
Selama ini sebagian besar jaringan serat optik dibangun pada jalan provinsi maupun jalan kota/ kabupaten. Karena dibangun di tempat terbuka dan umum, resiko gangguan pada jaringan sering terjadi seperti yang dirasakan oleh para pengguna sehingga menyulitkan aktivitas daring masyarakat yang saat ini semakin marak setelah pandemi. Risiko-risiko tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi penyedia layanan jaringan serat optik dalam memberikan service level yang optimal di tengah kebutuhan masyarakat yang meningkat pesat atas penyediaan jaringan internet berkualitas.
Dalam menjawab tantangan ini, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (Surge) (IDX:WIFI) melalui anak usahanya PT Integrasi Jaringan Ekosistem (Weave) sedang dalam proses penyelesaian jaringan serat optik sepanjang jalur kereta di seluruh pulau Jawa. Pembangunan jaringan serat optik pada sepanjang jalur kereta api menjadi salah satu alternatif yang menjanjikan. Metode ini diklaim lebih superior daripada membangun serat optik di sepanjang jalan raya. Keamanan jaringan menjadi fokus utama, dimana pemasangan serat optik sepanjang rel kereta memiliki risiko gangguan yang sangat minim karena dibangun di area steril jika dibandingkan membangun jaringan serat optik pada jalan raya.
“Keunggulan pemasangan serat optik sepanjang rel kereta di lahan yang dimiliki oleh PT KAI cenderung lebih cepat pengerjaannya, lebih aman, dan lebih minim gangguan dibandingkan dengan pemasangan serat optik pada umumnya. Hal ini menjadi keunggulan kompetitif bagi perusahaan dalam menghadirkan konektivitas dengan kecepatan tinggi dan reliabel. Semoga hal ini bisa menjawabkan kebutuhan pelaku dan masyarakat atas konektivitas berkecepatan tinggi yang handal dan minim gangguan” ujar CEO Surge, Hermansjah Haryono.
Related News
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp5.000 Per Gram
Gencarkan Program Loyalitas Nasabah, Bank Raya Ajak Lakukan Ini
Emas hingga Minyak Berpotensi Fluktuatif Pekan Ini, Apa Penyebabnya?
Yuan Hari Ini Menguat 95 Poin Terhadap Dolar AS
Giliran BRIN Kembangkan Petasol, Bahan Bakar Dari Sampah Plastik
Harga Emas Antam Senin Ini Turun Rp16.000 Per Gram





