EmitenNews.com - Bersama Pertamina, PT Garam tengah menyiapkan proyek pengolahan limbah air garam menjadi garam industri. Megaproyek dengan nilai investasi jumbo Rp7 triliun ini ditargetkan mulai berjalan pada 2026 dengan kapasitas produksi mencapai 1 juta ton per tahun. Ground breakingnya pada April mendatang.

Dalam keterangannya Kamis (12/2/2026), Sekretaris Perusahaan PT Garam, Indra Kurniawan mengatakan, fasilitas tersebut akan dibangun di Balikpapan dengan memanfaatkan air buangan dari proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Pertamina. Rupanya, selama ini, air garam sisa proses RDMP hanya dinetralkan sebelum dilepas kembali ke laut.

"Kita kolaborasi dengan Pertamina, investasinya Rp7 triliun, yang di RDMP Balikpapan dengan kapasitas 1 juta ton. Paling besar memang yang di Balikpapan dengan Pertamina," kata Indra Kurniawan kepada pers, di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta, Kamis (12/2/2026).

Dalam operasional RDMP, Pertamina membutuhkan air bersih untuk kebutuhan boiler. Sedangkan air garam hasil samping proses, selama ini tidak dimanfaatkan secara ekonomis, misalnya seperti dalam perencanaan PT Garam dan Pertamina itu.

"Kami tawarkan kepada Pertamina, air buangan mereka daripada mereka olah untuk dibuang, tidak menghasilkan apa-apa, itu kita ambil. Dan itu disambut baik sama Pertamina dari PT Kilang Pertamina Internasional, juga didukung dari Pertamina Holding," ujarnya.

Rencananya, pabrik garam industri tersebut akan memanfaatkan brine dari fasilitas Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) Kilang Pertamina Balikpapan. Skema ini dinilai sejalan dengan upaya optimalisasi limbah industri sekaligus memperkuat pasokan garam industri dalam negeri.

Ke depan, PT Garam, Pertamina, dan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) akan membentuk entitas baru berupa PT untuk mengelola proyek tersebut.

Dalam skema kerja sama ini, PT Garam akan mengambil air buangan dengan kadar minimal 4 derajat Baume untuk kemudian diolah menggunakan teknologi Mechanical Vapor Recompression (MVR) agar dapat dikonversi kembali menjadi garam industri.

"Sudah MOU dengan Pertamina. Saat ini sedang penyusunan FS (feasibility study) untuk kita ambil. Kita ambil air buangan tersebut untuk nantinya kita proses menggunakan teknologi MVR untuk dijadikan Garam Industri kembali," jelasnya.

Proyek tersebut, katanya, sudah dipresentasikan kepada Danantara dan membidik groundbreaking kerja sama PT Garam-Pertamina pada fase kedua, yakni April 2026.

PT Garam juga menyiapkan enam proyek lain sebagai bagian dari strategi penguatan industri garam nasional pada 2026. Rencana tersebut mencakup pembangunan pabrik pengolahan garam di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan kapasitas awal 200.000 ton per tahun. Juga fasilitas pengolahan garam di Bipolo, NTT, berkapasitas 109.842 ton per tahun.

Lainnya lagi, PT Garam juga akan membangun pabrik Calcium-Magnesium (Ca-Mg) di Sampang, Madura, yang memanfaatkan bittern sebagai produk turunan garam. Sementara di Jawa Timur, perusahaan berencana mendirikan pabrik garam industri di Sumenep dengan kapasitas antara 80.000 hingga 160.000 ton per tahun.

Masih ada lagi rancangan dua proyek pabrik garam berbasis teknologi Mechanical Vapor Recompression (MVR) di Gresik. Masing-masing melalui kerjasama dengan Citycon berkapasitas 100.000 ton per tahun dan dengan ACWA Power berkapasitas 400.000 ton per tahun. ***