Bukan Cuma Andalkan Label Syariah, Dari Mana Sumber Laba BRIS Rp7,57T?
Bukan Cuma Andalkan Label Syariah, Dari Mana Sumber Laba BRIS Rp7,57T? Dok. Istimewa EmitenNews
EmitenNews.com - Di satu sisi, laba bersih PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) sebesar Rp7,57 triliun (naik 8,02% YoY) sering kali dimaknai secara pragmatis sebagai hasil alamiah dari statusnya sebagai bank syariah terbesar. Di sisi lain, pasar terus menuntut pembuktian empiris: apakah profitabilitas ini berasal dari keunggulan struktural atau sekadar berkah demografi? Melalui Laporan Keuangan FY 2025, BRIS menengahi diskursus tersebut dengan fakta kuantitatif. Pertumbuhan perusahaan ternyata digerakkan oleh dua mesin utama yang beroperasi secara rasional.
Keunggulan Biaya Dana (Cost of Fund) yang Rendah
Struktur pendanaan adalah urat nadi profitabilitas sebuah bank. Pada tahun 2025, total Dana Pihak Ketiga (DPK) atau simpanan nasabah di BRIS mencapai Rp380 triliun. Dari jumlah tersebut, porsi dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) mendominasi sebesar 61,62% atau sekitar Rp234 triliun.
CASA mengukur porsi dana giro dan tabungan terhadap total simpanan nasabah. Porsi CASA yang besar berarti bank mengeluarkan biaya bagi hasil atau Cost of Fund yang lebih rendah dibandingkan jika bank harus mencari dana dari deposito.
Menariknya, porsi dana murah BRIS banyak ditopang oleh Tabungan Wadiah (titipan murni tanpa imbal hasil) dan dana setoran awal ibadah haji. Dengan struktur dana bernilai ratusan triliun yang beban biayanya mendekati nol persen ini, BRIS memiliki bantalan yang kuat untuk menjaga tingkat margin keuntungannya, bahkan ketika suku bunga acuan di pasar sedang tinggi.
Strategi Pembiayaan Minim Risiko Lewat Kredit dan Emas
Laba yang besar akan tergerus jika kualitas kreditnya memburuk. Sepanjang 2025, BRIS menyalurkan total pembiayaan sebesar Rp318,84 triliun (naik 14,49% YoY). Di tengah ekspansi pembiayaan ini, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Financing (NPF) Gross justru terjaga di level rendah, yakni 1,81%.
Bagaimana BRIS menekan angka kredit macet? Rahasianya ada pada target pasar yang spesifik. BRIS fokus pada segmen dengan risiko gagal bayar yang terukur. BRIS banyak menargetkan pegawai pemerintahan (ASN) dan BUMN. Sistem potong gaji langsung (autodebet) dari rekening penerimaan gaji membuat risiko macet pada KPR atau kredit kendaraan bermotor menjadi sangat kecil. Di sisi lain, bisnis emas memberikan tingkat pengembalian yang stabil bagi bank dengan risiko yang sangat minim. Hal ini menjadi mungkin karena pinjaman nasabah dijamin langsung oleh wujud fisik emas yang nilainya terjaga dan mudah dicairkan.
Efisiensi Melalui Transaksi Digital
Sepanjang 2025, BRIS mencatatkan penambahan 2 juta nasabah baru. Alih-alih membuka banyak kantor cabang fisik baru yang membutuhkan biaya operasional tinggi, BRIS menyerap pertumbuhan nasabah ini melalui ekosistem aplikasi digital mereka yaitu BYOND.
Peralihan aktivitas nasabah ke ekosistem online ini sukses mendongkrak Pendapatan Berbasis Komisi (Fee-Based Income) yang berasal dari transaksi transfer, pembayaran QRIS, dan tagihan. Peningkatan pendapatan di luar margin pembiayaan ini terbukti efektif menekan rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), yang pada akhirnya mencerminkan tingkat efisiensi perusahaan.
Kesimpulan: Likuiditas Terjaga dan Ujian Valuasinya
Secara keseluruhan, BRIS menutup tahun 2025 dengan fundamental yang sehat. Hal ini juga terlihat dari rasio Financing to Deposit Ratio (FDR) yang berada di angka 83,9%. FDR menunjukkan seberapa besar dana simpanan nasabah yang disalurkan kembali menjadi kredit. Angka 83,9% masuk dalam kategori ideal, yang berarti BRIS masih memiliki kapasitas uang kas yang cukup untuk menyalurkan pembiayaan baru tanpa harus meminjam atau menawarkan bunga deposito mahal.
Bagi investor, tantangan dalam mencermati saham BRIS saat ini murni terletak pada valuasi harganya. Pasar merespons struktur bisnis BRIS yang efisien ini dengan memberikan harga yang premium. Hal ini tercermin dari metrik Price to Book Value (PBV) BRIS yang berada di level 1,92x dan Price to Earnings Ratio (PE) secara Trailing Twelve Months (TTM) di angka 13,17x. Angka tersebut berada di atas rata-rata industri perbankan yang saat ini berada di kisaran PBV 1,33x dan PE 9,55x.
Investor bersedia membayar harga premium tersebut sebagai kompensasi atas daya tahan BRIS menghadapi gejolak suku bunga. Ke depan, selama perusahaan mampu mempertahankan dominasi dana murah dan menjaga kualitas kredit macetnya di bawah 2%, tren kinerja positif ini memiliki fondasi yang kuat untuk terus menopang ekspektasi pasar.
Disclaimer: Tulisan ini merupakan instrumen edukasi berbasis analisis data publik dan bukan merupakan rekomendasi jual atau beli instrumen investasi.
Related News
Dicoret Dari Proyek Strategis Nasional, Laba PANI Sumbernya Dari Mana?
Dikira Cuan Gede Berkat Lawson, Ternyata Alfamidi Untung Karena Ini!
Pasar Pulau Jawa Mulai Jenuh, Kok Bisa Laba Alfamart Naik 8,3 Persen?
Di Balik Laba Bersih USD127,2 Juta CDIA, Ini Tantangan Sebenarnya!
IHSG Melesat Rp25T: Kenapa Net Buy Asing Tipis & BBNI Anjlok?
Saham Big Banks Lain Terbang Puluhan Persen, Kok BBRI Merah Sendiri?





