EmitenNews.com -Mambaca judul di atas, sebagian besar dari kita mungkin akan mengkerutkan dahi. Memang ada bulan baik dan bulan buruk dalam berinvestasi saham di Indonesia? Jika melihat pola pergerakan saham, khususnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama bertahun-tahun, banyak sekali kejadian berulang yang terjadi di bulan-bulan tertentu yang bisa ditarik benang merahnya. Walaupun tidak selalu terjadi setiap tahunnya, pola ini bisa membantu kita sebagai investor saham dalam mengatur strategi investasi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan memanfaatkan peluang berdasarkan data historis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Penasaran dengan pola musiman bulan baik dan bulan buruk di IHSG yang sering berulang setiap tahunnya? Berikut ini adalah pola musiman di IHSG yang sering berulang serta strategi investor untuk memperoleh keuntungan dari pasar saham.

Januari Effect

Ya, seperti kita ketahui di awal bulan sering menghadirkan January Effect, yaitu sebuah fenomena di mana IHSG cenderung mengalami lonjakan signifikan di awal tahun yang umumnya terjadi dikarenakan optimisme awal tahun. Banyak sentimen positif dari investor individu dan institusi mendorong aksi beli di pasar saham. Selain itu di bulan ini juga terjadi reinvestasi dana yaitu dana yang diperoleh dari hasil window dressing yang terjadi di bulan Desember, kembali dialokasikan ke pasar saham.

Untuk memanfaatkan momen ini, sebaiknya mulailah bulan Januari dengan protofolio yang terdiversifikasi dan fokus pada saham berkapitalisasi kecil hingga menengah, yang biasanya mendapatkan dorongan lebih besar dibandingkan saham berkapitalisasi besar.

Sell in May and Go Away

Memasuki bulan Mei umumnya menjadi bulan yang penuh tantangan bagi IHSG. Sell in May and Go Away merupakan suatu tindakan investor yang menjual saham di awal bulan Mei. Ada beberapa alasan yang mendasari tindakan jual saham ini, diantaranya adalah bulan Mei di Indonesia biasanya menjadi puncak musim pembagian dividen. Setelah melewati tanggal ex dividen, harga saham cenderung terkoreksi karena adanya aksi jual dari investor yang telah mendapatkan hak dividen.

Bulan Mei juga menjadi bulan yang penting dalam mengevaluasi perkembangan kebijakan ekonomi dan hasil kinerja perusahaan selama semester pertama. Jika hasilnya tidak sesuai ekspektasi, pasar cenderung mengalami tekanan jual. Aktivitas rebalancing indeks acuan oleh fund manager juga sering terjadi di bulan Mei, yang dapat menambah volatilitas pasar saham. 

Dengan adanya pola seperti ini, kita bisa menerapkan strategi dengan menghindari aksi beli besar-besaran di bulan Mei. Sebaiknya, fokuslah pada sektor-sektor defensif seperti saham consumer goods atau saham kesehatan yang cenderung lebih stabil selama volatilitas meningkat.

Juli si Happy

Wajar jika bulan Juli disebut bulan Happy, hal ini beralasan dari data historis sejak tahun 2000 hingga tahun 2024, bulan Juli tercatat memiliki probabilitas kenaikan IHSG mencapai hingga 80%. Kenaikan ini seringkali didorong oleh beberapa faktor, seperti pemulihan pasar setelah koreksi panjang di kuartal kedua dan pasar saham sudah mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Selain itu, di bulan ini juga seringkali rilis laporan keuangan kuartal II menjadi katalis positif, terutama jika makroekonomi menunjukkan tren yang stabil. Data ini memberikan kenyakinan kepada investor bahwa prospek perusahaan masih positif.