Bursa Era 1 Perak: GOTO Runtuh, Gocapers Pesta Pora Rajai Transaksi
:
0
Bursa Era 1 Perak: GOTO Runtuh, Gocapers Pesta Pora Rajai Transaksi. Foto EmitenNews
EmitenNews.com - Pemberlakuan aturan batas bawah saham Rp1 telah memicu 'gempa' struktural di Bursa Efek Indonesia, mengubah peta perdagangan secara radikal hanya dalam hitungan hari. Sejak berlakunya era saham 1 perak 28 September 2026, dari IHSG yang sempat terguncang akibat ambruknya saham raksasa berstatus big cap seperti GOTO ke bawah level gocap, meledaknya rekor volume transaksi hingga 120 miliar lembar saham, hingga bangkitnya saham-saham "zombi" yang mendadak liar dan memicu dominasi transaksi spekulatif investor ritel.
Lantas, siapa saja emiten yang paling terpukul, dan bagaimana sebenarnya dinamika valuasi pasar serta pergeseran singgasana kapitalisasi raksasa dalam merespons anomali bersejarah ini?
Tekanan Berat pada IHSG akibat Saham Big Cap yang Turun di Bawah Gocap
Pola paling kentara di masa awal pemberlakuan aturan ini adalah jatuhnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara signifikan. IHSG merosot dari level 6.241,89 sebelum aturan berlaku, dan sempat menyentuh titik terendah 5.973,16 pada 1 Oktober 2026.
Koreksi ini utamanya ditekan oleh saham berkapitalisasi pasar besar dengan outstanding shares masif seperti GOTO, yang harganya tergelincir jauh di bawah batas psikologis Rp50. GOTO secara konsisten menjadi pemberat utama (top laggard) bursa selama empat hari berturut-turut, membebani IHSG sebesar -12,84 poin pada 28 September, -11,00 poin pada 29 September, -9,17 poin pada 30 September, dan -7,40 poin pada 1 Oktober.
Penurunan harga GOTO berlanjut dari Rp37 menjadi Rp32 pada 30 September, merepresentasikan kerentanan saham big cap terhadap pencarian harga wajar baru (price discovery).
Lonjakan Volume Transaksi yang Ekstrem dan Terdistorsi
Batas bawah Rp1 memicu anomali volume perdagangan bursa yang melonjak drastis, didorong oleh transaksi pada saham-saham yang kini diperdagangkan di harga sangat murah. Puncak anomali terjadi pada Jumat, 2 Oktober 2026, ketika total volume transaksi bursa meledak hingga 120,68 miliar lembar saham.
Menariknya, lonjakan ini hampir sepenuhnya disumbang oleh satu saham. Pada hari tersebut, GOTO mencatatkan volume 99,89 miliar lembar, yang mewakili 82,77% dari total seluruh volume perdagangan saham di BEI. Pola ini menunjukkan bahwa pada harga bawah yang baru, likuiditas bisa terkonsentrasi secara ekstrem pada emiten tertentu yang sedang diakumulasi atau didistribusi oleh pelaku pasar.
Volatilitas Tinggi pada Saham-Saham Gocap
Related News
Indonesia Tak Turun Kasta, PR Menanti Saat Vietnam Naik Kelas di FTSE
16 Saham Siap Bagi Dividen, Intip Siapa yang Kasih Yield Paling Jumbo!
Alfamart Tebar Dividen Rp14,5/Saham: Cek Yield & Rahasia Cuannya!
Dikendalikan Sang Putri, Dapur Hulu Kerajaan Sawit Haji Isam Lesu
Kerajaan Sawit Haji Isam & Bisnis "Numpang Rahim" Kebijakan Negara
Dari Dapen AS Hingga Raja Indeks Emas, Ini Jejak Raksasa Global di BEI





