EmitenNews.com — Demi mendongkrak kinerja tahun ini PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) telah merealisasikan sebagian belanja modal atau  capital expenditure  (Capex) dari jumlah total capex yang sebesar Rp 400 miliar - Rp 600 miliar.


Sebagai informasi, SGRO menganggarkan capex sekitar Rp 400 miliar - Rp 600 miliar. Rencananya, 50% dari dana capex tersebut akan digunakan untuk pengembangan perkebunan, sementara sisanya sebagai modal untuk pemeliharaan aset tetap, seperti bangunan, infrastruktur, dan mesin.


Dalam keterangan resmi seperti dikutip  , akhir pekan lalu Head of Investor Relation   SGRO , Stefanus Darmagiri menyebut pada kuartal pertama 2022 realisasi belanja modal sebesar kurang lebih Rp 100 miliar. "Di mana 25% untuk aset tetap dan 75% untuk perkebunan," jelasnya.


Stefanus juga mengatakan, di sepanjang kuartal I 2022 pihaknya merealisasikan volume produksi CPO sebanyak 67.000 ton. Sedangkan realisasi penjualan CPO sebesar 66.000 ton dengan harga rata-rata penjualan pada Rp 14.850/kg.


Adapun sebelumnya, total volume penjualan minyak sawit SGRO di kuartal I 2021 mencapai 114.828 ton. Artinya pada periode awal tahun ini volume penjualan minyak sawit SGRO mengalami penurunan.


Pendapatan SGRO pada kuartal I 2022 juga mengalami penurunan meskipun tidak dalam. Di awal tahun ini, SGRO mencatatkan penjualan Rp 1,25 triliun dari yang sebelumnya Rp 1,33 triliun pada kuartal I 2021 atau turun sekitar 6% yoy.


Penjualan pada kuartal I 2022 didominasi dari produk kelapa sawit yang senilai Rp 1,2 triliun atau turun 6,3% yoy dari sebelumnya Rp 1,28 triliun. Sedangkan untuk penjualan dan segmen lain-lain yakni penjualan kecambah, tepung sagu, jasa analisa dan listrik tumbuh 9,61% yoy menjadi Rp 52,19 miliar.


Di sepanjang tiga bulan pertama 2021, SGRO mencatatkan penjualan ke dalam negeri senilai Rp 1,25 triliun dan sisanya ke negara-negara asing Rp 2,11 miliar.


Kendati penjualan turun, laba SGRO justru mengalami peningkatan sekitar 17% yoy dari sebelumnya Rp 212,57 miliar di kuartal I 2021 menjadi Rp 249,16 miliar.


Penurunan pendapatan SGRO lebih disebabkan oleh penurunan produksi CPO dikarenakan kondisi cuaca yang kurang baik pada kuartal pertama 2022. "Sedangkan naiknya laba lebih disebabkan oleh Perseroan yang mampu untuk melakukan efisiensi biaya," ujarnya.


Secara umum, SGRO melihat prospek bisnis sawit pada tahun 2022 masih cukup baik yang dapat ditopang oleh sentimen harga komoditas minyak sawit mentah yang baik.


Oleh karenanya, perseroan optimistis dalam mengejar target pertumbuhan produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 5% yoy hingga 10% yoy. Sedangkan untuk produksi CPO, pihaknya menargetkan volume produksi akan tumbuh 6%-12% dibanding pencapaian di tahun lalu.