EmitenNews.com - Perbankan dan komoditas menjadi salah satu sektor yang dapat dicermati pada perdagangan pekan depan, yakni periode 28 September s.d 2 Oktober 2026.

Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama memperkirakan sejumlah saham dari sektor komoditas menarik dicermati di perdagangan pekan depan. Terutama, saham-saham yang memiliki katalis dari pergerakan harga komoditas global.

“Beberapa saham yang bisa masuk radar antara lain ANTM, INCO, MDKA, ITMG, TAPG dan SSIA. Namun pendekatannya tetap selective, karena kondisi IHSG yang masih volatile membuat pemilihan saham menjadi lebih penting dibanding sekadar mengikuti pergerakan indeks,” ujar Elandry kepada EmitenNews.

Serupa, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M Nafan Aji Gusta juga mencermati saham-saham dari sektor komoditas seperti ANTM, INCO, MBMA, ADRO hingga ITMG.

Menurutnya, saham-saham itu diperkirakan berpotensi terkena sentimen dinamika harga komoditas global, meskipun katalis fundamental masing-masing berbeda.

Di sisi lain, ia juga mencermati sektor saham perbankan, seperti BBCA, BMRI, BBRI dan BBNI. Ia menyebutkan bahwa saham-saham tersebut menarik diperhatikan dari sisi perubahan foreign flow dan kemampuan membentuk technical rebound setelah mengalami tekanan.

“Sementara itu, untuk pendekatan yang relatif lebih defensif, AMRT, ICBP, dan MYOR dapat diperhatikan karena memiliki eksposur terhadap konsumsi domestik dan karakteristik bisnis yang berbeda dari saham komoditas maupun perbankan,” katanya.

Jika Proyeksi IHSG Pekan Depan, Bagaimana?

Seiring dengan pemberlakuan kebijakan harga minimum Rp1 saham dan FCA pada senin mendatang (28/9), Nafan memperkirakan arah IHSG dalam jangka pendek masih bergerak volatil. Bahkan volatilitasnya berpotensi tinggi dengan bias relatif hati-hati.

Menurutnya, tekanan tidak hanya akan datang dari perubahan regulasi bursa, melainkan juga faktor makroekonomi yang jauh lebih dominan. Di antaranya seperti seperti rupiah yang masih berada di kisaran Rp17.900-an per dolar AS, tingginya yield US Treasury, kenaikan harga minyak dunia hingga di atas US$100 per barel, ketidakpastian geopolitik, serta masih adanya tekanan foreign outflow.