Data Center dan Lahan Industri, Meluruskan Miskonsepsi Investasi
:
0
Data Center dan Lahan Industri, Meluruskan Miskonsepsi Investasi. Dok. Datacenters
EmitenNews.com - Ledakan investasi data center sedang mengubah wajah kawasan industri Indonesia. Permintaan lahan meningkat, kebutuhan listrik melonjak, dan kawasan seperti Cikarang, Karawang, Bekasi hingga Batam semakin sering disebut sebagai pusat pertumbuhan baru ekonomi digital.
Namun, di tengah euforia tersebut, muncul sebuah miskonsepsi yang perlu diluruskan: data center tumbuh, berarti semua lahan industri otomatis menjadi aset investasi yang menarik.
Logika tersebut terlalu sederhana. Data center memang membutuhkan lahan. Tetapi data center tidak sekadar membutuhkan tanah. Ia membutuhkan listrik dalam jumlah besar, air, konektivitas, keamanan, infrastruktur, kepastian hukum, dan lokasi yang mampu memenuhi standar teknis serta operasional dalam jangka panjang.
Karena itu, pertanyaan investasinya bukan lagi sekadar, “Di mana harga tanah akan naik?” Melainkan, “Lahan mana yang benar-benar memiliki karakteristik yang dibutuhkan industri data center?” Di sinilah investor perlu berhati-hati.
Data Center Mengubah Definisi Lahan Strategis
Pertumbuhan kecerdasan buatan, cloud computing, dan konsumsi data memang mendorong ekspansi pusat data di Indonesia. Pada Juli 2026, pemerintah menyebut kapasitas data center yang telah beroperasi di Indonesia sekitar 580 MW. Pada saat yang sama, terdapat minat pembangunan tambahan sekitar 1,3 GW dengan estimasi nilai investasi mencapai US$15 miliar hingga US$20 miliar.
Angka tersebut memperlihatkan besarnya peluang. Tetapi besarnya investasi data center justru membuat kebutuhan lahannya menjadi semakin spesifik. JLL pada Agustus 2026 menyebut sekitar 80 persen permintaan lahan industri dalam cakupan risetnya berasal dari sektor data center.
Kebutuhan lahan untuk satu proyek juga meningkat, dari sekitar 5 hektare dua atau tiga tahun sebelumnya menjadi sekitar 10 hingga 30 hektare. Ini bukan sekadar peningkatan permintaan tanah. Ini adalah perubahan standar mengenai apa yang disebut lahan industri yang bernilai strategis.
Tanah Murah Belum Tentu Menjadi Aset Menarik
Inilah miskonsepsi pertama yang perlu dibongkar. Investor sering tergoda mencari lahan dengan harga murah karena berharap kenaikan harga ketika kawasan tersebut berkembang menjadi pusat data. Padahal, bagi operator data center, harga tanah hanyalah salah satu komponen keputusan investasi.
Related News
Akurasi Data Jadi Taruhan, DTSEN Wajib Dibenahi
Saham IPO Tanpa Izin OJK Muncul: Uang Memang Kembali, Tapi Waktu Tidak
Kaki Bank Indonesia di Moneter dan Fiskal, Mampukah?
Ekonomi Politik Kebakaran Hutan
Menimbang Penetapan Komoditas Strategis BMKS
Saham Hijau BEI, Peduli Lingkungan atau Sekadar Tren Global?





