Di Bawah Dirut Baru Jeffrey Hendrik BEI Bidik Target Besar Hingga 2030
:
0
Potret gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta. Foto: EmitenNews/Aji
EmitenNews.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) memasang target ambisius hingga 2030 di bawah kepemimpinan Direktur Utama Jeffrey Hendrik yang baru ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Senin (29/6/2026).
Di bawah kepemimpinan baru, BEI menargetkan peningkatan kapitalisasi pasar, kenaikan rata-rata nilai transaksi (RNTH) hingga Rp31 triliun, hingga pertumbuhan jumlah investor menjadi 35 juta single investor identification (SID).
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M Nafan Aji Gusta menilai, secara matematis target kapitalisasi pasar dinilai masih memungkinkan tercapai dengan pertumbuhan tahunan sekitar 13%-14%, terutama apabila didukung masuknya emiten-emiten berkapitalisasi besar melalui gelaran IPO dan apresiasi harga saham secara organik.
Sementara itu, target peningkatan nilai transaksi harian menjadi Rp31 triliun dinilai menjadi tantangan terbesar. Menurut Nafan, pencapaiannya akan sangat bergantung pada meningkatnya partisipasi investor institusi domestik serta kembalinya foreign inflow ke pasar modal Indonesia.
Di sisi lain, target 35 juta investor dinilai lebih realistis seiring meningkatnya penetrasi digital dan inklusi keuangan, khususnya di kalangan generasi muda.
“Maka, untuk mendukung target tersebut, BEI perlu melakukan peningkatan kualitas emiten dan perlindungan investor, sekaligus pendalaman pasar melalui diversifikasi produk di luar saham konvensional, seperti produk derivatif, obligasi, dan instrumen karbon,” tutur Nafan kepada EmitenNews, Senin (29/6).
Senada, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang menilai target BEI di periode 2026-2030 termasuk ambisius namun tetap realistis dicapai, selama mendapat dukungan dari regulator, pemerintah, pelaku industri serta ditopang kondisi ekonomi makro yang kondusif.
Ia juga menekankan, bahwa tantangan terbesar bukan terletak pada besarnya target, melainkan pada eksekusinya. Karena itu, prioritas utama yang perlu didorong adalah peningkatan likuiditas pasar, kualitas emiten, serta penguatan kepercayaan investor melalui edukasi, transparansi, hingga perlindungan investor dengan penegakan aturan yang konsisten.
“Beberapa fokus yang penting adalah mempercepat digitalisasi pasar modal, meningkatkan kualitas pengawasan, memperluas basis investor institusi domestik, meningkatan kualitas IPO, serta menarik perusahaan teknologi dan ekonomi baru agar listing di Indonesia,” ungkapnya.
Sementara itu, Equity Research Kiwoom Sekuritas, Adrian Djie mengatakan, di samping memasang target tersebut, BEI juga perlu memprioritaskan pemulihan kepercayaan pasar di tengah kinerja IHSG yang mengalami tekanan net foreign sell mencapai Rp86,81 triliun secara ytd.
Related News
Tokenisasi Aset di PINTU Melejit 40 Persen pada Semester-I 2026
IHSG Senin (29/6) Lanjut Turun, Nilai Transaksi Hanya Rp9 Triliun
IHSG Berkutat di Zona Merah, Ada Potensi Ditutup Menguat?
IHSG Ambruk di Sesi I, Big Bank Ikut Terpeleset
IHSG Dibuka Naik di Awal Pekan Meski Sentimen Rupiah & BI Jadi Sorotan
Bikin HGBT Tak Optimal, Kemenperin Usul Cabut AGIT





